Muka menghadap ke depan bukan hanya semata-mata bermakna spasial. Tetapi juga dan terutama bermakna temporal. Waktu tidak pernah akan bisa surut ke belakang. Masa lampau tidak pernah akan kembali. Sic transit gloria mundi: Demikianlah melintas kemuliaan dunia.
Ada yang berpendapat bahwa garis waktu itu bersifat siklikal. Garis waktu itu ibarat spiral yang ditarik molor mengendor. Dari samping tampak melaju memanjang. Namun dari atas hanya tampak sebuah lingkaran belaka.
Persis seperti saat kita mau parkir di lantai atas Mal Taman Anggrek. Berputar-putar terus tidak keruan. Melingkar sampai tujuh keliling dan terasa terus menanjak. Tetapi secara struktural vertikal sebenarnya lingkaran parkir itu hanya terkurung pada bidang lingkaran silinder dengan diameter tertentu dan tetap.
Karena peristiwa-peristiwa sekarang memiliki benihnya pada masa lampau maka kerap kali fakta itu diseret-seret terus dalam memori manusia. Semuanya merupakan suatu kesatuan dan kontinuitas yang tidak terputuskan. Walaupun sebenarnya dapat terbedakan dan terpisahkan.
Manusia suka mengingat-ingat kenangan manis dan lucu dari masa lampau. Obat paling ampuh untuk jiwa yang sedang bersedih ialah membuka album foto masa lampau. Memperhatikan foto-foto kawan-kawan atau sanak sewaktu mereka masih kecil atau muda. Betapa lucu dan menggelikannya mreka itu. Orangpun kemudian dapat tersenyum sendiri dan menghela napas kelegaan.
Manusia juga suka mengingat-ingat prestasi diri di masa lampau. Menyesalkan kondisi terpuruk atau tak berdaya di masa kini. Betapa bangganya mengenang kembali kejayaan masa lampau. Dari sinilah terbit yang dinamakan post power syndrome. Persis seperti menyaksikan perilaku tersangka pidana pelanggaran HAM di sidang pengadilan negeri. Dia yang meski tetap tampak tersisa sikap garangnya namun lebih tampak seperti singa yang sudah kehilangan taringnya.
Mengungkit-ungkit jasa masa lampau juga merupakan bentuk kebiasaan buruk manusia. “Kalau tidak ada saya waktu itu yang menolong dia, mungkin kini ia sudah terpuruk di kolong jembatan. Kini kalau kebetulan berpapasan di jalan dan bersirobok mata, berani-beraninya ia melengos seakan-akan tidak pernah kenal saya. Sakit hati ini mas… sakit sekali rasanya…”
Sayangnya – dan nyatanya wajah manusia menghadap ke depan. Bukan berada di tengkuk dan menghadap ke belakang. Konon manusia purba [dan juga manusia rimba] mampu merasakan ancaman bahaya dari arah belakang. Itu sama tajamnya dengan melihat bahaya nyata yang menghadang di depan mata.
Karena kelenjar pineal mereka masih berfungsi purna dan normal. Mampu menyerap getaran-getaran halus bahaya lewat bulu tengkuknya yang [mungkin] teramat peka untuk selalu siap meremang. Mementung kepala manusia modern lebih mudah dari pada terhadap rekannya manusia rimba.
Karena manusia secara harafiah tidak bisa menatap masa kini maka ia hanya bisa menatap masa depan. Entah beberapa jauhnya jarak ke muka. Atau menerobos tabir hari esok untuk meninjau secara abstrak masa jangka menengah atau jangka panjang.
Visualisasi merupakan kapabilitas yang memungkinkan manusia untuk menggambarkan tujuan pada masa yang akan datang. Memampukan ia untuk berlari, mengejar, dan menyongsong masa depannya. Tanpa visualisasi manusia hanya akan terus terperangkap pada kerangkèng masa sekarang. Entah kondisi itu sedang bagus. Ataupun malah sedang apês, sedang terpuruk seburuk-busuknya.
Setiap kali kita merasa minder dan tak berguna melangkahlah tegap menghadap ke depan. Setiap kali merasa terkurung pada kondisi buruk masa kini tataplah matahari yang baru terbit di ufuk Timur. Visualisasikan panorama sunrise ini sejelas dan sebening-beningnya. Kemudian simpan sedalam-dalamnya memori ini ke dalam kalbu kita.
Setiap kali kita merasa akan berputus asa, pejamkan mata sejenak dan terbitkan panorama sunrise itu ke layar telivisi maya di depan pelupuk mata kita. Maka jiwa kita seakan mendapat suntikan energi murni yang baru. Untuk mampu semakin mantap dalam melangkah maju menuju ke ufuk Timur. Menuju titik terbitnya hari esok yang semakin cemerlang. [JS]