Suatu saat saya mendapat wangsit [caileeeh !] begini. “Kalau berjalan harus tegap. Muka menghadap ke depan. Hanya satwa yang menghadap ke tanah.” Bujubusett… boljug nasihat ini. Hanya kebo atau huk-huk yang berjalan sambil menatap sendu wajah ibu Pertiwi. Sambil kopat kapit ekornya mengusir lalat.
Berjalan dengan kepala tertunduk dan menghadap ke bumi dalam istilah tanah leluhur disebut “menghitung jari kaki” [soan ciok ci]. Jari kaki kok dihitung? Ya karena tidak tahu apa lagi yang harus dikerjakan. Karena depresi dan putus asa!
Manusia diciptakan dengan wajah di depan. Bukan di samping atau di atas. Pernah lihat ikan pari? Nah, wajahnya memang di atas ya. Dan ada ikan-ikan lain yang matanya di samping kuping. Mata ikan mas koki masih mendingan, agak ke depan.
Apa makna tersirat wajah di depan? Tataplah cakrawala masa depanmu. Jangan menoleh terus ke belakang. Tengeng leher kau nanti! Mengapa menatap ke bumi? Karena yang indah itu bukan lumpur lapindo. Masih ada bintang fajar di ufuk Timur.
Konon saat Allah menghukum kota maksiat Sodom dan Gomora turunlah hujan api dan belerang panas. Isteri Lot menoleh ke belakang. Iapun terkutuk menjadi tiang garam. Menoleh ke belakang dapat berarti menyesalkan kenikmatan dunia yang terpaksa ditinggalkan. Jadi menyiratkan tidak adanya proses penyesalan atau pertobatan. Tidak menyesal dan tidak bertobat tentunya mendatangkan penghukuman. Apalagi sudah diberikan peringatan keras oleh dua orang malaikat: “Jangan menoleh ke belakang… supaya jangan engkau mati lenyap.”
Dalam Injil juga ada teguran keras begini. “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Lucu sekali membayangkan kebo pak tani yang sedang membajak tetapi sebentar-sebentar menoleh ke belakang. Tentu alur bajakannya tidak lurus melainkan seperti bekas aluran perut ular yang berkelok-kelok di atas pasir atau lumpur.
Dalam kultur Barat dinilai tidak sopan apabila orang berkomunikasi tatap muka tetapi tidak melakukan eye contact. Kalau muka diplengoskan terus mana bisa orang mengadakan kontak mata? Anak yang merasa bersalah menundukkan kepalanya bila berhadapan dengan guru atau orang tuanya. Para PKS atau waria yang kena ciduk dalam operasi susila bukan hanya menunduk tetapi mencoba menutup wajahnya dengan rambut atau bajunya.
Menunduk adalah body language untuk rasa malu dan rasa bersalah. Menatap mata-ke-mata menandakan ketulusan dalam berkomunikasi. Bisa juga bersikap menantang yang menyiratkan adanya semacam animo keberanian yang superior atau minimal egaliter.
Yaitu bila disertai sorot mata nyalang yang mengandung aura merah kemarahan. Atau bersikap merendahkan apabila disertai sorot mata penuh penghinaan. Atau pula merupakan pelecehan seksual bila disertai sorot mata yang mesum atau ganjen.
Secara fisikal kalau orang berjalan sambil terus menoleh ke belakang akan kehilangan kewaspadaan. Bisa saja tahu-tahu ia kerosok ke lobang got. Atau lebih celaka lagi ia tertabrak kendaraan yang melaju pesat dari arah depan. Ia akan kehilangan waktu yang cukup untuk mengindari tabrakan maut tersebut.
Secara emosional dan psikologis orang yang menoleh terus ke belakang menandakan hati yang rusuh, bimbang dan tidak tenang. Takut ada musuh yang menyerang dari arah belakang. Takut kelihatan oleh orang-orang, misalnya karena baru saja menjambret atau mencopet. Atau takut sendiri karena sedang berjalan menuju ke suatu tempat yang tidak baik atau terlarang.
Secara spiritual pandangan wajah ke depan bermakna eskatologis. Seperti filsuf Teilhard de Chardin orang yakin bahwa ras kemanusiaan ini sedang bergerak maju serempak secara evolusioner menuju ke titik Omega. [JS]