Berlomba Atau Bertarung

Pernahkah anda menyaksikan atraksi sabung ayam? Pasti pernah. Walaupun mungkin hanya sekilas. Walaupun mungkin anda bukan seorang penggemar sabung ayam.

Atau mungkin anda pernah menyaksikan pertandingan tinju. Misalnya, antara Mike Tyson dan Evander Holyfield. Di mana Mike Tyson tak segan-segan untuk menggigit telinga Holyfield lawannya?

Dalam suatu pertandingan tinju pada hasil akhirnya harus ada yang menang. Jadi dengan sendirinya juga pasti ada yang kalah.

Bisa juga hasil akhirnya ada yang menang angka. Atau hasilnya seri. Di situ tidak ada yang menang atau kalah. Jadi mereka sama-sama menang. Atau sama-sama kalah.

Dalam suatu pertandingan seperti ini tujuan utama ialah lawan harus kalah. Tujuan akhirnya ialah kemenangan untuk diri sendiri. Dalam Thai Boxing bahkan para petinju boleh memakai sikut, dengkul, sundulan kepala, bahkan tendangan kaki.

Hal-hal itu terlarang pada pertandingan tinju biasa. Yang penting bagaimana bisa menang. Artinya, petinju boleh memakai cara apa saja untuk menang. Kecuali pakai acara menggigit telinga sampai putus model Mike Tyson; barangkali ?!

Dalam suatu perlombaan lain lagi masalahnya. Misalnya dalam lari seratus meter. Pasti ada yang “paling cepat” memutuskan pita di garis finish. Begitu pula pada nomor lari gawang dan marathon. Memang harus ada yang menang mutlak. Tidak ada juara bersama. Satu jadi pemenang dan semua lainnya menjadi pecundang. Walaupun ada yang namanya runner up. Lima besar. Sepuluh besar. Apapun namanya tetap saja mereka bukan pemenang. Mereka semua termasuk kategori para pecundang.

Dalam bidang sosial lain yang bukan olah raga orang dapat memilih. Mau mengadopsi “mentalitas pertarungan”. Atau “mentalitas perlombaan.” Sama-sama soal menang dan kalah. Namun paradigmaa dasar yang menjadi landasannya jauh berbeda. Lain sama sekali. Seperti perbedaan langit dan bumi.

Kita ambil saja contoh salah satu Pilkada. Tidak usah sampai Pilpres lah. Dalam suatu Pilkada pasti ada yang bakal menang atau kalah. Kontestan juga bisa hanya satu atau beberapa. Apakah lebih mirip suatu “pertarungan” atau suatu “perlombaan” jadinya?

Dalam satu pertarungan harus ada yang dikalahkan secara tuntas. Entah dengan fair atau dengan segala cara. Termasuk tujuan yang akan akan menghalalkan segala cara. Cara halus, cara kasar, cara licik, kecurangan, intimidasi, pembelian suara, kebohongan publik. Apa saja yang tersedia dan yang mungkin terpikirkan.

Kalau terasa anginnya bakal kalah maka segala upaya akan dilakukan. Protes ke Panwas. Melakukan demonstrasi. Memalsukan atau mencuri surat suara. Perkelahian fisik antar pasukan Tim Sukses. Pengrusakan gedung dan asset lawan. Pengaduan ke lembaga hukum. Termasuk ke Mahkamah Konstitusi. Semuanya karena paradigmaa yang dipilih ialah paradigma pertarungan. Bahkan pertarungan sampai titik darah [sen rupiah] yang terakhir. Pokoknya kudu menang!

Bila paradigma yang dianut ialah perlombaan maka tidak diperlukan semua huru-hara tersebut. Tidak perlu ada demo. Tidak perlu ada perkelahian. Tidak perlu ada darah yang mengalir. Atau kepala yang bocor terkena lemparan batu. Tidak perlu ada vandalisme. Tidak perlu sampai merepotkan pihak kepolisian. Apalagi merepotkan Makamah Konstitusi.

Hillary Clinton memang telah berjuang sampai maksimal. Tetapi begitu Obama menang, Hillary mengakui kekalahannya. Tidak sampai di situ. Hillary bahkan mengajak para pendukungnya untuk memberikan suara kepada Obama. Begitu Obama menang maka McCain segera mengakui kekalahannya. McCain juga menyatakan dukungannya kepada The Future President, Mr. Barack Obama.

Begitu menang Obama tidak bersikap adiguna. Tidak melecehkan kekalahan Hillary. Obama bahkan merangkul Hillary. Bahkan mencalonkannya menjadi Menteri Luar Negeri dalam kabinetnya nanti. Ironis sekali bahwa masyarakat dan elit politik Amerika justru menjalankan secara nyata falsafah Jawa. Jelas sekali Obama mengadopsi falsafah Jawa: Digjaya tanpa aji. Menang tanpa ngasorake.”

Sedangkan di lain pihak ada sebagian komunitas Indonesia – termasuk banyak elit politik ber-etnik Jawa – malahan melupakannya sama sekali. Ada yang bersikap ojo dumeh [mentang-mentang]. Nglurug nganggo bala [pakai pam-swakarsa masing-masing]. Digjaya ngaggo aji [aji kekebalan dan lainnya]. Menang tur ngasorake [ethnocide 3 juta jiwa model zaman pasca G.30.S dsb].

Kekeliruan terbesar paradigmaa pertarungan dalam aktivitas sosial bukan-perang [non-war social activity] seperti ini ialah diadopsikannya falsafah “live and let die” dari suatu peperangan. Padahal seharusnya yang dipakai ialah falsafah “live and let live” dari suatu perlombaan yang sehat.

Yaitu jenis perlombaan yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat banyak. Perlombaan mengasah budi dan nilai kepemimpinan sebagai negarawan sejati. Para pimpinan yang saling berlomba dalam mengadopsi nilai-nilai keluhuran budi: ketulusan niat, kecerdasan memimpin dan mengelola SDM dan SDA.

Nilai kejujuran, keimanan yang utuh dan kokoh, hidup sederhana, dan kerendahan hati. Nilai toleransi dan ethos kerja keras demi kepentingan keseluruhan bangsa yang beraneka suku, agama, aliran kepercayan dan budayanya. [JS]

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.