<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Mang Iyus Weblog</title>
	<atom:link href="http://juswan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://juswan.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Oct 2009 06:50:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='juswan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Mang Iyus Weblog</title>
		<link>http://juswan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://juswan.wordpress.com/osd.xml" title="Mang Iyus Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://juswan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Keputusan Definitif</title>
		<link>http://juswan.wordpress.com/2009/10/26/keputusan-definitif/</link>
		<comments>http://juswan.wordpress.com/2009/10/26/keputusan-definitif/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 06:50:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>juswan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Decision]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://juswan.wordpress.com/2009/10/26/keputusan-definitif/</guid>
		<description><![CDATA[Keputusan definitif ialah jenis keputuhan yang sekali diambil maka akan berlaku untuk selamanya. Keputusan semacam ini biasanya menyangkut hal-hal yang penting dalam kehidupan. Keputusan dalam memilih berjalan-jalan ke Mal Taman Anggrek atau Mal Senayan City bukanlah jenis keputusan yang definitif. Di tengah perjalanan mobil yang mengarah ke Taman Aggrek dapat saja berbelok malahan menuju ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juswan.wordpress.com&amp;blog=3384217&amp;post=146&amp;subd=juswan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keputusan definitif ialah jenis keputuhan yang sekali diambil maka akan berlaku untuk selamanya. Keputusan semacam ini biasanya menyangkut hal-hal yang penting dalam kehidupan. </p>
<p>Keputusan dalam memilih berjalan-jalan ke Mal Taman Anggrek atau Mal Senayan City bukanlah jenis keputusan yang definitif. Di tengah perjalanan mobil yang mengarah ke Taman Aggrek dapat saja berbelok malahan menuju ke Mal Pondok Indah.</p>
<p>Salah satu keputusan definitif ialah keputusan untuk memeluk agama. Celakanya [atau untungnya] kerap kali keputusan dalam soal yang satu ini diambil oleh orang tua untuk anaknya sejak masih bayi.  Hak azasi ini telah direnggut dari anak oleh orang tuanya sendiri dengan dalih bahwa orang tua paling tahu apa yang terbaik bagi anaknya.</p>
<p>Karena dibesarkan dalam kerangka budaya dan siklus irama tahunan agama tertentu maka sampai dewasa kebanyakan anak akan bertahan pada agama yang dipilih orang tua bagi dirinya. </p>
<p>Akibatnya, banyak orang melakukan kewajiban agamanya tanpa kesadaran penuh.  Mereka merasakan ritual agama sebagai suatu beban yang memberatkan yang dipikulkan ke atas bahu mereka.</p>
<p>Lain halnya bila seorang dewasa memilih agamanya sendiri menurut keyakinan pribadinya secara bebas, secara logis dan secara nuraniah.  Keputusan semacam ini termasuk kategori suatu keputusan iman [decisio fidei].  Sebagai suatu keputusan iman maka sifatnya [seharusnya] definitif: sekali dan tidak berubah-ubah lagi. </p>
<p>Ia secara bebas memilih untuk menjadi pengikut ajaran Yesus Kristus, Nabi Muhammad SAW, Siddharta Gautama, Mirza Gulam Ahmad ataupun Zarathustra [Zoroaster].</p>
<p>Keputusan lainnya ialah memilih pasangan dalam perkawinan. Bila perkawinan dipandang sebagai suatu peristiwa iman [occasio fidei] maka keputusan untuk kawin dengan seseorang tertentu merupakan keputusan definitif: yaitu sekali dan untuk selamanya. </p>
<p>Namun apabila perkawinan hanya dipandang sebagai peristiwa kebudayaan [occasio culturalis] atau adat istiadat etnik, peristiwa sosial [occasio socialis] maka keputusannya dapat tidak mutlak bersifat definitif.  Maka sebagai konsekuensi logisnya kerap kali kemudian terjadi perpisahan atau perceraian dari perkawinan jenis ini.</p>
<p>Matra iman itu bukanlah soal besar-kecilnya, tebal-tipisnya, melainkan utuh tidaknya.  Bila iman itu utuh [fides indivisus] maka tidak ada istilah ganti agama, murtad, atau perceraian. </p>
<p>Perceraian hanyalah akibat jenis keputusan yang non definitif.  Keputusan “yang diusahakan” untuk dipertahankan selama mungkin selagi masih memungkinkan.  Ikrar “till death do us apart” hanyalah slogan kebudayaan yang indah yang lazim dipakai dalam suatu upacara pernikahan demi aspek keromantisannya belaka.</p>
<p>Mungkin ada manfaatnya sekali-sekali kita mengkaji-ulang apakah keputusan kita untuk beragama &#8211; dan juga untuk menikah, benar-benar merupakan suatu keputusan iman yang definitif  atau hanya sekedar keputusan biasa yang diambil atas dasar pertimbangan lain.</p>
<p>Misalnya, pertimbangan kebiasaan [usance], pertimbangan adat budaya, petimbangan sosial, pertimbanagn psikologis, pertimbangan hukum atau malah sekedar pertimbangan ekonomis [maka ada istilah kawin dengan harta terpisah].</p>
<p>Seberapa tinggi kadar definitifnya keputusan seseorang akan menentukan kekekalan usia keputusan tersebut dalam penghayatannya dalam kehidupan nyata orang tersebut.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/juswan.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/juswan.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/juswan.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/juswan.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/juswan.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/juswan.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/juswan.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/juswan.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/juswan.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/juswan.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/juswan.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/juswan.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/juswan.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/juswan.wordpress.com/146/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juswan.wordpress.com&amp;blog=3384217&amp;post=146&amp;subd=juswan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://juswan.wordpress.com/2009/10/26/keputusan-definitif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/549bfe6e20ea8b0b81d7068d625199bd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">juswan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berlomba Atau Bertarung</title>
		<link>http://juswan.wordpress.com/2009/01/13/berlomba-atau-bertarung/</link>
		<comments>http://juswan.wordpress.com/2009/01/13/berlomba-atau-bertarung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 02:17:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>juswan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba; Tarung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://juswan.wordpress.com/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah anda menyaksikan atraksi sabung ayam? Pasti pernah. Walaupun mungkin hanya sekilas. Walaupun mungkin anda bukan seorang penggemar sabung ayam. Atau mungkin anda pernah menyaksikan pertandingan tinju. Misalnya, antara Mike Tyson dan Evander Holyfield. Di mana Mike Tyson tak segan-segan untuk menggigit telinga Holyfield lawannya? Dalam suatu pertandingan tinju pada hasil akhirnya harus ada yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juswan.wordpress.com&amp;blog=3384217&amp;post=142&amp;subd=juswan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Pernahkah anda menyaksikan atraksi sabung ayam?<span> </span>Pasti pernah. Walaupun mungkin hanya sekilas.<span> </span>Walaupun mungkin anda bukan seorang penggemar sabung ayam. <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><strong>Atau</strong> mungkin anda pernah menyaksikan pertandingan tinju.<span> </span>Misalnya, antara Mike Tyson dan Evander Holyfield. Di mana Mike Tyson tak segan-segan untuk menggigit telinga Holyfield lawannya? <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><strong>Dalam</strong> suatu pertandingan tinju pada hasil akhirnya harus ada yang menang. Jadi dengan sendirinya juga pasti ada yang kalah. <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><strong>Bisa</strong> juga hasil akhirnya ada yang menang angka. Atau hasilnya seri. Di situ tidak ada yang menang atau kalah. Jadi mereka sama-sama menang. Atau sama-sama kalah.<span> </span><strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><strong>Dalam</strong> suatu pertandingan seperti ini tujuan utama ialah lawan harus kalah. Tujuan akhirnya ialah kemenangan untuk diri sendiri.<span> </span>Dalam Thai Boxing bahkan para petinju boleh memakai sikut, dengkul, sundulan kepala, bahkan tendangan kaki. <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><strong>Hal-hal</strong> itu terlarang pada pertandingan tinju biasa. Yang penting bagaimana bisa menang. Artinya, petinju boleh memakai cara apa saja untuk menang. Kecuali pakai acara menggigit telinga sampai putus model Mike Tyson; barangkali ?! <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><strong>Dalam</strong> suatu perlombaan lain lagi masalahnya. Misalnya dalam lari seratus meter. Pasti ada yang “paling cepat” memutuskan pita di garis finish.<span> </span>Begitu pula pada nomor lari gawang dan marathon. Memang harus ada yang menang mutlak. Tidak ada juara bersama. Satu jadi pemenang dan semua lainnya menjadi pecundang. Walaupun ada yang namanya runner up. Lima besar. Sepuluh besar. Apapun namanya tetap saja mereka bukan pemenang. Mereka semua termasuk kategori para pecundang. <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><strong>Dalam</strong> bidang sosial lain yang bukan olah raga orang dapat memilih. Mau mengadopsi “mentalitas pertarungan”. Atau “mentalitas perlombaan.” <span> </span>Sama-sama soal menang dan kalah.<span> </span>Namun paradigmaa dasar yang menjadi landasannya jauh berbeda. Lain sama sekali.<span> </span>Seperti perbedaan langit dan bumi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Kita</span></strong><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> ambil saja contoh salah satu Pilkada. Tidak usah sampai Pilpres lah.<span> </span>Dalam suatu Pilkada pasti ada yang bakal menang atau kalah.<span> </span>Kontestan juga bisa hanya satu atau beberapa.<span> </span>Apakah lebih mirip suatu “pertarungan” atau suatu “perlombaan” jadinya? <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><strong>Dalam</strong> satu pertarungan harus ada yang dikalahkan secara tuntas. Entah dengan fair atau dengan segala cara.<span> </span>Termasuk tujuan yang akan akan<span> </span>menghalalkan segala cara. Cara halus, cara kasar, cara licik, kecurangan, intimidasi, pembelian suara, kebohongan publik. <span> </span>Apa saja yang tersedia dan yang mungkin terpikirkan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span> </span><strong>Kalau</strong> terasa anginnya bakal kalah maka segala upaya akan dilakukan. Protes ke Panwas. <span> </span>Melakukan demonstrasi. <span> </span>Memalsukan atau mencuri surat suara. Perkelahian fisik antar pasukan Tim Sukses. <span> </span>Pengrusakan gedung dan asset lawan. Pengaduan ke lembaga hukum. <span> </span>Termasuk ke Mahkamah Konstitusi. <span> </span>Semuanya karena paradigmaa yang dipilih ialah paradigma pertarungan. Bahkan pertarungan sampai titik darah [sen rupiah] yang terakhir.<span> </span>Pokoknya kudu menang! <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><strong>Bila</strong> paradigma yang dianut ialah perlombaan maka tidak diperlukan semua huru-hara tersebut. Tidak perlu ada demo. Tidak perlu ada perkelahian. Tidak perlu ada darah yang mengalir. Atau kepala yang bocor terkena lemparan batu. Tidak perlu ada vandalisme. Tidak perlu sampai merepotkan pihak kepolisian.<span> </span>Apalagi merepotkan Makamah Konstitusi. <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><strong>Hillary</strong> Clinton memang telah berjuang sampai maksimal. Tetapi begitu Obama menang, Hillary mengakui kekalahannya.<span> </span>Tidak sampai di situ. Hillary bahkan mengajak para pendukungnya untuk memberikan suara kepada Obama.<span> </span>Begitu Obama menang maka McCain segera mengakui kekalahannya. <span> </span>McCain juga menyatakan dukungannya kepada The Future President, Mr. Barack Obama. <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><strong>Begitu</strong> menang Obama tidak bersikap <em>adiguna</em>. Tidak melecehkan kekalahan Hillary. <span> </span>Obama bahkan merangkul Hillary. Bahkan mencalonkannya menjadi Menteri Luar Negeri dalam kabinetnya nanti. <strong>Ironis</strong> sekali bahwa masyarakat dan elit politik Amerika justru menjalankan secara nyata falsafah Jawa. Jelas sekali Obama mengadopsi falsafah Jawa:<span> </span>“<em>Digjaya tanpa aji. Menang tanpa ngasorake.”</em><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span></span><strong>Sedangkan</strong> di lain pihak ada sebagian komunitas Indonesia – termasuk banyak elit politik ber-etnik Jawa – malahan melupakannya sama sekali. Ada yang bersikap <em>ojo dumeh [mentang-mentang]. Nglurug nganggo bala [pakai pam-swakarsa masing-masing]. Digjaya ngaggo aji [aji kekebalan dan lainnya]. <span> </span>Menang tur ngasorake [ethnocide 3 juta jiwa model zaman pasca G.30.S dsb].</em> <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><strong>Kekeliruan</strong> terbesar paradigmaa pertarungan dalam aktivitas sosial bukan-perang [non-war social activity] seperti ini ialah diadopsikannya falsafah <em>“live and let die”</em> dari suatu peperangan<em>.</em><span> </span>Padahal seharusnya yang dipakai ialah falsafah <em>“live and let live” </em>dari suatu perlombaan yang sehat. <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><strong>Yaitu</strong> jenis perlombaan yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat banyak. <span> </span>Perlombaan mengasah budi dan nilai kepemimpinan sebagai negarawan sejati. <span> </span>Para pimpinan yang saling berlomba dalam mengadopsi nilai-nilai keluhuran budi: <span> </span>ketulusan niat, kecerdasan memimpin dan mengelola SDM dan SDA. <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><strong>Nilai </strong>kejujuran, keimanan yang utuh dan kokoh, <span> </span>hidup sederhana, dan kerendahan hati.<span> </span>Nilai toleransi dan <em>ethos </em>kerja keras demi kepentingan keseluruhan bangsa yang beraneka suku, agama, aliran kepercayan dan budayanya. [JS]</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/juswan.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/juswan.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/juswan.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/juswan.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/juswan.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/juswan.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/juswan.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/juswan.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/juswan.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/juswan.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/juswan.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/juswan.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/juswan.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/juswan.wordpress.com/142/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juswan.wordpress.com&amp;blog=3384217&amp;post=142&amp;subd=juswan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://juswan.wordpress.com/2009/01/13/berlomba-atau-bertarung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/549bfe6e20ea8b0b81d7068d625199bd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">juswan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tutup Tahun Dengan Syukur</title>
		<link>http://juswan.wordpress.com/2008/12/31/tutup-tahun-dengan-syukur/</link>
		<comments>http://juswan.wordpress.com/2008/12/31/tutup-tahun-dengan-syukur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Dec 2008 02:26:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>juswan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Year End]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://juswan.wordpress.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Kata dan sikap apa yang paling pantas dipegang pada akhir tahun ini? Tidak lain dari pada kata syukur. Hanya manusia satu-satunya mahluk yang bisa dan tahu bersyukur. Kerbau tidak bisa. Sebagai hewan paling cerdas monyet juga tidak bisa. Mengapa kita pantas bersyukur? Dengan segala macam keruwetan global crisis ini? Dengan segala isyu global warming ini? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juswan.wordpress.com&amp;blog=3384217&amp;post=125&amp;subd=juswan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">K</span></strong><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">ata</span><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> dan sikap apa yang paling pantas dipegang pada akhir tahun ini?<span> </span>Tidak lain dari pada kata <em>syukur.</em><span> </span>Hanya manusia satu-satunya mahluk yang bisa dan tahu bersyukur. Kerbau tidak bisa. Sebagai hewan paling cerdas monyet juga tidak bisa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Mengapa</span><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> kita pantas bersyukur? <span> </span>Dengan segala macam keruwetan global crisis ini? Dengan segala isyu <em>global warming</em> ini? Yang jelas anda dan saya masih bisa menulis dan membaca artikel ini.<span> </span>Sekiranya sudah mendapat PR &#8211; <em>permanent residence</em> di lembah San Diego Hills tentu tidak mungkin lagi bukan?<span> </span>Nah, untuk itulah kita pantas bersyukur karena SIM – Surat Izin Menarik napas kenyataannya masih diperpanjang. Banyak rekan sebaya atau malahan lebih muda telah dicabut SIM-nya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Kita</span><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> masih dikaruniai <strong>kesehatan</strong> yang memadai – andaikan tidak prima – sehingga masih bisa hidup normal.<span> </span>Biaya hospitalisasi dan medikasi semakin menggila akibat kebijakan komersialisasi Rumah Sakit dan penyedia obat [pabrik farmasi dan apotik] serta alat kesehatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Ketiga,</span><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> negeri ini walaupun compang-camping dan berjalan tertatih-tatih masih memiliki negeri yang <strong>bersatu</strong> dan solid sebagai NKRI. <span> </span>Itupun patut disyukuri. <span> </span>Belum menjadi korban model Balkanisasi. <span> </span>Belum menjadi korban <em>teokratisasi </em>model Iran atau Afganistan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Keempat,</span><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> pasar <strong>domestik</strong> terlalu luas untuk tidak memungkinkan swa sembada produksi.<span> </span>Sebanyak apapun padi, jagung, gula, kedelai, sawit, sayur-sayuran, bawang, cabai diproduksikan, maka pasar dalam negeri masih mampu menyerapnya.<span> </span>Pembusukan hanya terjadi akibat kuatnya kebijakan yang tidak mendukung produksi anak negeri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Pupuk yang dihasilkan pasti cukup bila tidak dijadikan prioritas sebagai komoditi ekspor untuk mengejar rente maksimal.<span> </span>Tinggal kemauan politik yang belum ada untuk menetapkan bahwa pupuk hanya bisa diekspor bila kebutuhan dalam negeri akan pupuk telah cukup terpenuhi.<span> </span>Dan hal ini tidak mungkin terjadi bila pabrik pupuk bukan BUMN tetapi menjadi korporasi dagang kapitalis biasa yang dikuasai swasta – apalagi dikuasai oleh modal asing.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Sebenarnya</span><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> kita pantas bersyukur karena memiliki pasar dalam negeri yang luas sehingga sebenarnya tidak perlu benar tergantung pada pasar luar negeri.<span> </span>Dalam kondisi krisis global ini kebanyakan negara cenderung menjadi semakin proteksionis. Terutama proteksi dalam hal produk tanaman pangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Kita</span><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> masih memiliki sistem pedesaan sebagai <em>spons</em> penyerap keganasan perekonomian kota [<em>urban economy</em>]. Sebagian besar penduduk Indonesia [ di atas 60%] masih mempunyai <em>safety zone</em> untuk dijadikan <em>bunker</em> saat terpaksa surut karena tidak mampu lagi bertahan hidup secara marginal di kota-kota besar.<span> </span>Setidaknya 25 persen penduduk Jakarta bila kondisi benar-benar memaksa, masih dimungkinkan untuk berbalik arah dan <em>amit mundur</em> secara demikian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Kelima,</span><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> kita pernah dihantui oleh Natal-Bom-2002 yang garang, ganas dan menciutkan empedu. Namun pada akhir tahun ini kita bersyukur dapat merayakan <strong>ibadah</strong> Natal dalam suasana hening yang penuh rasa tenteram dan damai. Kondisi ini pantas mengundang rasa syukur kita. Beginilah seharusnya kondisi ideal bagi kita yang berbangsa dan bernegara dalam keanekaragaman sistem kepercayaan dan agama. Mau lebih ideal bagaimana lagi? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Itu kalau</span><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> kita mau melihat gelas kehidupan ini sebagai setengah berisi dan bukan telah setengah kosong. <span> </span>Melihatnya sebagai setengah kosong mencirikan diri kita sebagai manusia <strong>pesimis</strong>. Melihatnya sebagai setengah berisi mencirikan kita sebagai manusia <strong>optimis.</strong> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Melihatnya<strong> </strong>dengan sikap dan rasa syukur &#8211; bahwa yang terpenting gelasnya belum sampai kosong &#8211; menjadikan kita manusia <strong>realis</strong> yang <strong>optimalis. </strong>Manusia yang pandai bersyukur. [JS]</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/juswan.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/juswan.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/juswan.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/juswan.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/juswan.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/juswan.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/juswan.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/juswan.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/juswan.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/juswan.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/juswan.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/juswan.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/juswan.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/juswan.wordpress.com/125/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juswan.wordpress.com&amp;blog=3384217&amp;post=125&amp;subd=juswan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://juswan.wordpress.com/2008/12/31/tutup-tahun-dengan-syukur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/549bfe6e20ea8b0b81d7068d625199bd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">juswan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Terjerat Sarang Laba Laba</title>
		<link>http://juswan.wordpress.com/2008/12/29/terjerat-sarang-laba-laba/</link>
		<comments>http://juswan.wordpress.com/2008/12/29/terjerat-sarang-laba-laba/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Dec 2008 02:20:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>juswan</dc:creator>
				<category><![CDATA[religion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://juswan.wordpress.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Pernah menyaksikan lalat terjerat sarang laba-laba? Lalat begitu besar dibandingkan benang halus sarang itu. Logisnya ia harus bisa lepas bukan? Nyatanya tidak tuh? Belum ada sejarahnya begitu. Mengapa? Setiap kali lalat berontak ia menyinggung helai-helai lain benang di sekitarnya. Maka ia dijerat oleh lebih banyak lagi helai benang ‘sutra’ tersebut. Akhirnya begitu eratnya ia terikat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juswan.wordpress.com&amp;blog=3384217&amp;post=120&amp;subd=juswan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:18pt;line-height:115%;font-family:&quot;">P</span><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">ernah menyaksikan lalat terjerat sarang laba-laba? Lalat begitu besar dibandingkan benang halus sarang itu. Logisnya ia harus bisa lepas bukan? Nyatanya tidak tuh? Belum ada sejarahnya begitu. Mengapa? <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Setiap kali lalat berontak ia menyinggung helai-helai lain benang di sekitarnya. Maka ia dijerat oleh lebih banyak lagi helai benang ‘sutra’ tersebut. Akhirnya begitu eratnya ia terikat sehingga tidak bisa bergerak lagi. Skak mat ! </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Manusia juga suka begitu. Bila ia melakukan suatu perbuatan salah yang enak. Enak belum tentu salah lho. <span> </span>Maka ia akan terus melakukannya. Akhirnya, ia begitu terikat. Ia tidak bisa lagi lepas dari kebiasaannya itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Misalnya, anak suka <em>ngempeng</em>. Biasa toh! Namanya juga anak-anak. Tetapi percayakah anda bahwa ada anak yang sampai SMP masih suka <em>ngempeng</em>? Caranya? Ia masuk ke toilet dan <em>ngempeng</em> di sana sampai ketagihannya hilang… <em>bujubuset dah</em> ! </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Kita suka tertawa kalau kisah itu tentang seorang anak kecil. Bagaimana kalau kisah itu mengenai diri kita sendiri? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Akhir-akhir di kalangan elit timbul penyakit baru. Yang mengidapnya bukan hanya remaja tetapi juga orang dewasa. Kelainan jiwa ultramodern itu disebut BBAS.* </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Gejalanya seragam. Agak <em>budeg</em> kalau dipanggil. <em>Nyebelin</em> kalau diajak bicara. Kalau membawa mobil cenderung ketinggalan saat yang lain sudah cepat-cepat melewati lampu merah.<span> </span>Muka suka cengar-cengir sendiri. Persis monyet habis mencium terasi. Tengkuk menekuk bungkuk terus. Mata semakin <em>myopia</em> dan <em>jereng</em>. Telunjuk semakin lentik dan jempol semakin lebar.<span> </span>Semakin mirip jempol tukang pijit. Semakin senang pula menyendiri belakangan ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Anda dapat menemukan pasien kelainan jiwa ini di mana-mana. Di sekolah. Di Mal. Di busway. Di restoran. Bahkan di bangku-bangku gereja. [Kalau di mesjid pasti sembuh sejenak sakitnya]. Nama penyakit itu *<em>Black Berry Autism Syndrome</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Bagaimana dengan yang <em>gaptek</em> seperti saya?<span> </span>Sama saja! Misalnya yang kecanduan alkohol. Semakin minum semakin <em>asoy</em>. Ada kawan <em>mending</em> tidak usah makan dari pada tidak <em>ngebir</em>. Dalam seminggu frekuensi <em>ngebir</em> naik terus. Dari sekali seminggu menjadi hampir setiap malam <em>ngebir</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Lama lama ia juga semakin cerewet. Tak suka lagi bir botol atau bir kaleng. Ia mau bir segar. <em>Fresh from gentong</em>. <em>Draught beer</em> atau <em>Keg beer</em>. Itupun harus dari merk tertentu. Bukan merek ecek-ecek. Minimal harus Bud. Atau <em>Budweiser</em> keluaran pabrik <em>Anheuser-Busch</em>. <em>Made in Amrik coy! </em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Lain lagi dengan soal kelakuan buruk. <span> </span>Misalnya suka mengutip di Supermarket. Atau istilahnya <em>shoplifter</em>. <span> </span><em>Klepto</em> istilah kerennya. Jangan salah lo, <span> </span>konon <em>seleb kokai</em> juga banyak yang <em>klepto</em>.</span><span style="font-size:14pt;line-height:115%;"> <span> </span></span><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Baca ini di <em>Psychology Today</em>, edisi November 2002. </span><span style="font-size:14pt;line-height:115%;"><span> </span></span><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">“Winona Ryder was found guilty yesterday, November 6, on two counts of stealing $5,500 worth of designer goods from Saks Fifth Avenue in Beverly Hills, California.”</span></em><em><span style="font-size:14pt;line-height:115%;"> </span></em><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Kini</span><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> soalnya bagaimana supaya bisa lepas bukan? Emangnya bisa lepas? Mestinya ya bisa. Kenyataannya sulit sekali.<span> </span>Kalau tidak bisa artinya kita hanya belum tahu caranya saja. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Pernah lihat film di mana orang terperosok ke dalam pasir-apung atau <em>quicksand</em>? <span> </span>Joseph B. Wirthlin, seorang penatua dari </span><span style="font-size:14pt;line-height:115%;"><!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/Papa/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image002.gif" alt="" width="4" height="1" /><!--[endif]--></span><span class="toolbar"><em><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints</span></em></span><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> mengatakan bahwa pornografi itu juga mirip pasir apung. Sekali kita terperosok suka menonton DVD porno, maka sukar sekali kita bisa keluar dari kebiasaan buruk yang <em>seronok asoy</em> tersebut. Percayalah! [niru <em>tag line</em> kuno obat batuk Konidin]. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Apakah ada cara untuk keluar dari pasir apung itu &#8211; atau dari sarang laba-laba itu?<span> </span>Atau kita pakai istilah yang lebih lazim saja: keluar dari <strong>obsesi</strong> itu? <span> </span>Apakah kita bisa memakai hanya sekedar semacam “kemauan keras”? Atau semacam “resolusi tahun baru”? Atau cara “keras lawan keras” – batu lawan batu? Sayangnya tidak! </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Orang Katolik yang mempunyai kebiasaan [bagus?] mengaku dosa pun [menerima Sakramen Tobat] menyadari betul fakta kemustahilan itu. Lalu di mana kerja rahmat pengampunannya? Kenapa sampai tidak efektif ? Kenapa tidak ada perubahan sikap sama sekali? Apa perlu malahan ke psikiater alih-alih ke pastor? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Kata kunci di sini ialah <strong>melawan </strong>[fight]. Orang tidak mungkin melawan kebiasaan buruk atau dosa. Mengapa? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Ego-pikiran memang ingin melawan. Ego-perasaan merasa diri [sayangnya] cukup kuat. Ego-nurani yakin benar akan fakta dosanya. Sayangnya Ego-Nafsu sama sekali tidak berdaya. Sekali godaan melambai-lambai di depan mata langsung saja diserbu. Ibarat kucing disodori ikan asin. Tidak pakai pikir lagi. Tidak pakai malu-malu lagi. Tidak pakai rasa bersalah lagi. Pokoknya, <em>Sikat saja Bleh</em> <em>!</em> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Maka doa Bapa Kami itu sangat indah. Juga sangat inspiratif. Namun ada frasa: “Jangan masukkan kami ke dalam pencobaan”. Walah Gus, Agus…! Tapi <em>lho lho…kok malah</em> menyalahkan Gusti Allah toh? Masakan Gusti Allah yang sengaja memasukkan orang ke dalam pencobaan? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Lha bukankah senyatanya dirinya sendiri jadi pemeran <em>epigon</em> lakon Hawa yang sengaja dekat-dekat pohon <em>kuldi. </em><span> </span>Dan mulai membayang-rasakan nikmatnya buah itu? Akhirnya tergoda oleh kelicinan ular batinnya sendiri langsung dan menyantap <em>the forbidden fruit</em> tersebut. <span> </span>Kok dalam doanya malahan <span> </span><em>nyalahin</em> Gusti Allah sih? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Jadi tip pertama, jauhkan diri kita dari lokasi penuh ranjau. Kalau suka mabok jangan pergi ke kedai minuman keras. Jangan dekati lemari tempat botol alkohol disembunyikan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Jangan mudah diajak ke Café untuk <em>nge-wine</em> yang berbuntut <em>nenggak</em> Johny Walker. Atau masih menikmati anggur Red Bordeaux dengan kadar alcohol 14% dengan label <span class="insertedphoto"><em>Chateau Du Taillan 1966</em></span></span><span class="insertedphoto"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;color:#6600cc;">. <span> </span></span></span><span class="insertedphoto"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">White Bordeaux, <em>Chateau La Dame Blanche 1967</em>. Red Burgundy, <em>Chateau Du Pape 1967</em>. <span> </span>White Burgundy, <em>Puligny Montrachet</em>.<span> </span>Walah lagaknya macam aku ini ahli wine saja ! Padahal <em>ngewine</em> saja gak becus, boro-boro lagi mampu mbayar.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="insertedphoto"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Tip kedua, semakin tebal kantong kita semakin dekat kita dengan godaan. Dan semakin sofistik [canggih] wujud godaan itu. Jadi kalau sedang <em>out-of-office</em> maka Credit Card Khusus Bengkel jangan dibawa.<span> </span>Judulnya begitu padahal CC untuk <em>sex-workshop</em> khusus.<span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="insertedphoto"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Anak kunci untuk keluar dari obsesi mereknya bukan <em>Fight</em>. <span> </span>Tapi <em>Accept</em>. </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="insertedphoto"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Tip ketiga: jangan sombong. Terlalu <em>pede</em>.<span> </span>Lalu mengatakan:<span> </span>“Aku enggak kok. Cuma sedikit-sedikit. Cuma sekali-sekali. Pernah sih, tetapi jarang-jarang.” Mari kita bersikap jujur sajalah. Terimalah kenyataan bahwa kita memang terobsesi. </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="insertedphoto"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Memang seorang pengidap atau kecanduan. Entah apalah. Narkoba lah. Alkohol kek. Film porno. Cerita Silat. Telenovela. Main ceki. Fitness. Belanja. Zinah. Maling. Molimo. Internet. Chatting. <em>Nyetarbucks</em> kek. Bahkan kerja: <em>workaholics.</em> <span> </span>Pokoknya semua kegiatan yang memakan porsi terbesar waktu kita dalam sehari semalam. </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="insertedphoto"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Tip<strong> </strong>keempat, keberanian dan tekad untuk mengatakan TIDAK !<span> </span><em>Say No to Drug!,</em> misalnya. <em>Say no to porn! Say No to Corruption!</em> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="insertedphoto"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Mengapa? Karena pada saat itu anda berada pada <em>titik-ekuilibrium</em>. Titik <em>zero-energy</em>. Bergeser sedikit lagi saja langsung jatuh ke jurang. Atau tetap berada di tepi tubir saja, <span> </span>tetapi sampai tidak jatuh. <span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="insertedphoto"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Kemarin aku adegan melihat film lucu. Tiga penjahat lolos dari kejaran polisi naik bus. Tetapi saking ngebutnya akhirnya kepala dan sebagian badan bus mulai masuk ke jurang. Setengahnya masih aman. Ketiga penjahat itu <em>ngakak</em> berat. Merasa sudah aman. </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="insertedphoto"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Bus<strong> </strong>memang jungkat-jungkit seperti dacing pedagang emas. Tiba-tiba seekor burung undan besar hinggap di dekat kaca di atas kap mesin bus itu. Langsung bus itu meluncur ke dalam jurang. Bumm! Sroook! Masuk jurang dan terbakar. Hanya karena tambahan bobot burung undan itu. </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="insertedphoto"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Pada saat kita merasa kuat – saat sedang digoda atau tergoda – satu dorongan kecil sekecil apapun, itulah kerikil yang menyebabkan kita jatuh kembali. Lalu mengapa menunggu sampai kondisi kritis seperti itu terbentuk. Ya itu tadi. Jangan memasukkan diri sendiri ke dalam situasi pencobaan. Tetapi jauh lebih penting lagi untuk membentuk angkur yang lebih kuat sebelumnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="insertedphoto"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Pernah perhatikan struktur jembatan lengkung? Yang dibangun dari masing-masing dari kedua sisi sungai atau jurang? Bagian lengkung itu bukan yang terpenting. Tetapi justru fundamen kokoh yang dibangun di tepi kedua kawasan ujung tebing. Bobot bagian lengkung itu dibagi dan diteruskan gaya mekaniknya ke arah kedua tepiannya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="insertedphoto"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Kita<strong> </strong>sadar bahwa yang paling mampu menjatuhkan kita ke dalam obsesi ialah unsur Ego-nafsu. Dan tentu juga Ego-perasaan kita. Ego-pikiran kerap hanya melakukan rasionalisasi setelah kejadian [<em>post hoc</em>]. Ego-fisk hanya mengikuti saja ke mana Ego-nafsu pergi. </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="insertedphoto"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Sama seperti Adam hanya menyantap lahap begitu saja buah kuldi yang disodorkan Hawa ke depan congorya. <span> </span>Otak alias Ego-pikirnya buntu. <span> </span>Ego-nuraninya juga buntu. <span> </span>Ia benar-benar sayang bini [kan gak ada cewek lain lagi toh] – jadi ia menelan apa saja yang Hawa sodorkan kepadanya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="insertedphoto"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Maka kedua fundamen di kedua sisi tebing jurang itu ialah fundamen kokoh bagi Ego-nurani kita. Ego-nurani itu berupa bauran nilai-nilai moral dan nilai-nilai <em>logos</em> lainnya. Apapun <em>belief system</em> kita, sama saja kondisinya. <span> </span>Nilainyapun itu-itu juga. Mana mungkin bisa ada nilai yang lain atau berbeda. [JS]</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/juswan.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/juswan.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/juswan.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/juswan.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/juswan.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/juswan.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/juswan.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/juswan.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/juswan.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/juswan.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/juswan.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/juswan.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/juswan.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/juswan.wordpress.com/120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juswan.wordpress.com&amp;blog=3384217&amp;post=120&amp;subd=juswan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://juswan.wordpress.com/2008/12/29/terjerat-sarang-laba-laba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/549bfe6e20ea8b0b81d7068d625199bd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">juswan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Naik Kereta Api Tut Tut Tut…</title>
		<link>http://juswan.wordpress.com/2008/12/23/naik-kereta-api-tut-tut-tut%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://juswan.wordpress.com/2008/12/23/naik-kereta-api-tut-tut-tut%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2008 07:32:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>juswan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba Serbi]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://juswan.wordpress.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin saya coba-coba belajar naik kereta api. Dari stasiun Rawa Buaya ke Beos. Tarif untuk kereta api Express pakai AC, Benteng, tujuh ribu lima ratus. Mau yang lebih murah? Bisa naik kereta kelas ekonomi. Tarf hanya sepertiganya. Tapi dijamin berjubel dan pepak bau aneka aroma yang nano-nano. Kereta berangkat dari Tangerang. Di Rawa Buaya naik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juswan.wordpress.com&amp;blog=3384217&amp;post=115&amp;subd=juswan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Kemarin</span><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> saya coba-coba belajar naik kereta api. Dari stasiun Rawa Buaya ke Beos. Tarif untuk kereta api Express pakai AC, Benteng, tujuh ribu lima ratus.<span> </span>Mau yang lebih murah? Bisa naik kereta kelas ekonomi. Tarf hanya sepertiganya. Tapi dijamin berjubel dan pepak bau aneka aroma yang nano-nano.<span> </span>Kereta berangkat dari Tangerang.<span> </span>Di Rawa Buaya naik sekitar 20-an penumpang. Kebanyakan dari etnik Tionghoa.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Hampir semua masih kebagian tempat duduk. Satu dua memang terpaksa bergayutan model tarzan kota.<span> </span>Rupanya penumpang rutin sudah saling kenal. Jadi banyak yang bertegur sapa. Malahan ada yang jualan nasi bungkus dan kue gemblong. Transaksi berjalan lancar. Masing-masing sudah tahu harga. Jadi tinggal menyebutkan jumlah permintaan saja.<span> </span>Celoteh dan canda seru dalam berbagai dialek bahasa daerah termasuk bahasa Jakarta.<span> </span><strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Kereta hanya berhenti sekali di stasiun Duri. Setelah itu langsung tancap ke Kampung Bandan untuk mundur kembali ke aras stasiun Kota, Beos.<span> </span>Waktu tempuh sekitar satu jam.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Untuk yang berkantor di MH Thamrin dan Sudirman tersedia kereta api express pakai AC, Cisadane. Berhenti di stasiun Dukuh Atas. Dari sana ke kantor masing-masing terserah mau naik oplet atau ojek. Ada tetapinya. Kereta ini hanya satu kali jalan di pagi hari sekitar jam 7 pagi.<span> </span>Seterusnya sampai sore jangan harap ada kereta pada trayek ini. Untuk kembali ke Rawa Buaya malam hari kereta berangkat jam 6 dan 8.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Dari<strong> </strong>stasiun kota saya naik busway Transjakarta ke jurusan Blok M. Tarif jauh dekat tiga ribu lima ratus. Tidak begitu padat juga. Di <em>interchange</em> Harmoni sebagian penumpang turun untuk antri ke koridor bus jurusan lain.<span> </span>Ada yang ke jurusan Pulogadung dan yang ke Kalideres. Waktu tempuh sampai Blok M juga kurang dari <span> </span>satu jam. Setelah berkeliaran sejenak di sekitar Mal Blok M yang belum buka, lalu saya kembali naik busway ke jurusan Harmoni.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Turun<strong> </strong>di halte Gelora Senayan untuk ngopi sambil sarapan pagi. Roti bakar pakai selai kacang. Mau masuk ke Plaza Senayan ditahan pak Satpam. Ternyata masih terlalu pagi dan belum buka juga. Baru akan buka jam 10 pagi. Saya naik lagi busway ke arah Kota. Turun di halte sekitar bundaran Hotel Indonesia di depan Grand Hyatt Hotel.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Lalu<strong> </strong>saya jalan kaki menuju ke Mal Grand Indonesia. Kepingin tahu toko buku Gramedia yang sempat diresmikan pak SBY. Seperti apa sih tokonya?<span> </span>Penasaran hati saya.<span> </span>Ternyata lumayan besar juga tokonya.<span> </span>Walaupun koleksi bukunya &#8211; saya kira, sedang-sedang saja. Tidak semua buku tersedia seperti di sesama TBG yang lain. Konon sudah ada 18 gerai lain?<span> </span>Wah ! <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Ada eskalator ke lantai kedua yang menjual khusus buku-buku import.<span> </span>Di sana juga tersedia fasilitas Café sehingga bisa baca sambil minum.<span> </span>Atau minum sambil baca. Mau yang mana? Terserah anda sajalah.<span> </span><strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Buku-buku dalam masa promosi mendapat korting 30 persen. Kalau pakai Credit Card BCA ditambah ekstra korting 5 persen lagi. Aku iseng beli 3 buah buku total seharga 168 ribuan. Bayar hanya 109 ribuan. Lumayan dan terasa juga kortingnya. <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Tapi hanya sampai tanggal 26 Desember saja masa promosinya. Jadi para kutu buku… atau kutu kupret… Kalau mau beli buku murah… Bukan promosi nih, ya!… Bergegaslah satu dua hari ini ke sana selagi masih sempat dapat korting gede.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Dari HI saya naik busway lagi ke kawasan Glodok-Pinangsia. Masuk gang-gang <em>senggol labyrinth</em> Harco yang sempit.<span> </span>Masya’allah… <em>home industry</em> atau <em>workshop industry</em> kaset bajakan luar biasa. Dilakukan secara terbuka dan terang-terangan! Tidak tahu para polisi sedang berada di mana. Tak tahu soal Perlindungan Hak Cipta masih terpikirkan oleh semua umat yang berseliweran di kawasan ini.<span> </span><strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Saya lihat berkarung-karung kaset bajakan diangkut. Tentunya untuk dipasarkan ke daerah lain di negeri pembajak ini.<span> </span><em>Business as usual</em>.<span> </span>– <em>anyhow,</em> <em>anyway, busway <span> </span></em>– tapi saya bukan “membenarkan yang tidak benar” lho ya ! <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Mungkin ada positifnya juga bagi para orang kecil. <span> </span>Supaya dapur mereka tetap berasap di masa-masa sulit krisis ekonomi global sekarang ini. Soal para pembajak hak cipta biarlah para penegak hukum memikirkan solusi yang terbaik selain kolusi. <span> </span><em>Cuius culpa?</em> <span> </span>Emangnya salah siapa? Satu jari menunjuk ke depan, tiga jari menunjuk ke diri sendiri, satu jari menunjuk ke samping !<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Hari sudah jam 1.30 siang.<span> </span>Cacing sudah minta ransum siang.<span> </span>Maka saya pesan seporsi Sop Betawi.<span> </span>Sop ayam tentunya, dan bukan sop kambing, karena kemarin ukuran tensi berkutat di 140 mHg. Ditambah seporsi sate serta minuman <em>ice lemon tea</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Makan<strong> </strong>di lokasi ini beda sekali dengan makan di Mal.<span> </span>Kelihatannya manusianya santai-santai saja. Anteng, damai.<span> </span>Mungkin sesantai sebagian dari mereka yang turut secara langsung atau tidak langsung [abang-abang, mbak mbak, penjaja PKL dll] dalam industri pembajakan masal di sekitar ini. <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Dari Glodok saya naik busway ke jurusan Kalideres. Sekali ini penumpang cukup berjubel. Apalagi di <em>interchange</em> Harmoni untuk jurusan Kalideres. Sebelum sampai di Kalideres saat di Rawa Kepa saya turun bus untuk ganti arah dan naik kembali busway ke jurusan Kota.<span> </span>Sudah setengah sinting saya barangkali. Dari Harmoni sampai Kota pokoknya berdiri terus kayak patung <em>oglek</em>. Tidak dapat tempat duduk sama sekali kecuali sekedar tempat bergayut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Sampai di Beos hari baru jam 3 lewat. Padahal kereta api baru akan berangkat jam 4 sore. Dapat beli tiket tetapi tidak dapat tempat duduk di peron. Walah! Mana kaki sudah nyeri semua. Terpaksa <em>nangkring</em> di kantin sambil menikmati es campur yang rasanya nano-nano. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Di<strong> </strong>Beos ini ada belasan jalur kereta api. Jadi kalau menunggu di jalur yang keliru, bisa-bisa orang ketinggalan kereta. Di sini berlaku “<em>malu bertanya ketinggalan kereta</em>”…<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Sore ini ternyata kereta api express AC, Benteng, terlambat setengah jam. <em>Shame on you!</em> <span> </span><em>Good bye punctuality</em>.<span> </span>Kereta melaju dengan cepat ke Rawa Buaya dan hanya mampir sekali saja di stasiun kampung Duri.<span> </span>Karena pintu yang dibuka hanya pintu satu dan dua sedangkan kebagian duduk di gerbong sepuluh, ya! </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Terpaksa <em>deh </em>cepat-cepat angkat pantat pindah tempat ke gerbong dua. Kereta tiba di Rawa Buaya sekitar jam 5 sore.<span> </span>Dari situ naik ojek tarif 5 ribuan pulang ke rumah setelah seharian berpetualang di jalur kereta api dan busway.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Pagi ini yang tersisa ialah rasa kram di kedua betis. Nyeri di telapak kaki. Dan rasa bonyok di sekujur tubuh.<span> </span>Apa yang didapat?<span> </span><em>First experience</em> mengenai seluk-beluk <em>mass transportation</em> di Jakarta. <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Kereta api belum optimal dimanfaatkan. Busway dalam dilemma si malakama. Bila terlalu banyak bus disediakan pada mubazir pada jam-jam sepi.<span> </span>Bila terlalu kurang disediakan maka empet-empetan seperti ikan sardencis di jam-jam rame. Jam pagi dan pulang kerja dan jam-jam istirahat siang juga rame sekali. <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Manusia<strong> </strong>hanya bisa belajar dari pengalaman otentik. Demikian juga Pemda DKI akan belajar dari pengalaman mencari titik optimal penyediaan armada busway.<span> </span>PJKA harus lebih mensoasialisasikan dan mengoptimasikan fasilitas yang ada.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span></span>Kesan<strong> </strong>umum kereta api express AC memang terpelihara apik dan bersih. Keamanan kereta api dan terutama busway terjaga. Di setiap pintu bus Transjakarta tersedia petugas kemanan dengan nomor punggung.<span> </span>Mereka bertugas membantu keluar masuknya para penumpang… termasuk keamanan bus tentunya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Pengamen nakal di KA juga ada walaupun tidak memaksa. Tetapi di jurusan Kota ke Tangerang sempat ditegur Petugas Keamanan PJKA. Mereka berkali-kali diminta pindah ngamen ke kereta ekonomi.<span> </span>Tampaknya mereka sangat enggan juga.<span> </span>Maklumlah.<span> </span>Kereta ekonomi begitu impit-impitan kebanyakan penumpang?<span> </span>Sedangkan mereka bawa perangkat perkusi juga. Serba salah juga emang! [JS].</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/juswan.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/juswan.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/juswan.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/juswan.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/juswan.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/juswan.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/juswan.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/juswan.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/juswan.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/juswan.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/juswan.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/juswan.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/juswan.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/juswan.wordpress.com/115/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juswan.wordpress.com&amp;blog=3384217&amp;post=115&amp;subd=juswan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://juswan.wordpress.com/2008/12/23/naik-kereta-api-tut-tut-tut%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/549bfe6e20ea8b0b81d7068d625199bd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">juswan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menatap Ufuk Masa Depan</title>
		<link>http://juswan.wordpress.com/2008/12/19/menatap-ufuk-masa-depan-2/</link>
		<comments>http://juswan.wordpress.com/2008/12/19/menatap-ufuk-masa-depan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2008 14:07:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>juswan</dc:creator>
				<category><![CDATA[religion]]></category>
		<category><![CDATA[Muka Ke Depan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://juswan.wordpress.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Muka menghadap ke depan bukan hanya semata-mata bermakna spasial. Tetapi juga dan terutama bermakna temporal. Waktu tidak pernah akan bisa surut ke belakang. Masa lampau tidak pernah akan kembali. Sic transit gloria mundi: Demikianlah melintas kemuliaan dunia. Ada yang berpendapat bahwa garis waktu itu bersifat siklikal. Garis waktu itu ibarat spiral yang ditarik molor mengendor. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juswan.wordpress.com&amp;blog=3384217&amp;post=109&amp;subd=juswan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:22pt;line-height:115%;font-family:&quot;">M</span><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">uka menghadap ke depan bukan hanya semata-mata bermakna <em>spasial</em>.<span> </span>Tetapi juga dan terutama bermakna <em>temporal.</em> <span> </span>Waktu tidak pernah akan bisa surut ke belakang. <span> </span>Masa lampau tidak pernah akan kembali. <span> </span><em>Sic transit gloria mundi</em>:<span> </span>Demikianlah melintas kemuliaan dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Ada yang berpendapat bahwa garis waktu itu bersifat <em>siklikal</em>.<span> </span>Garis waktu itu ibarat spiral yang ditarik molor mengendor.<span> </span>Dari samping tampak melaju memanjang.<span> </span>Namun dari atas hanya tampak sebuah lingkaran belaka.<span> </span><strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Persis<strong> </strong>seperti saat kita mau parkir di lantai atas Mal Taman Anggrek. Berputar-putar terus tidak keruan.<span> </span>Melingkar sampai tujuh keliling dan terasa terus menanjak. Tetapi secara struktural vertikal sebenarnya lingkaran parkir itu hanya terkurung pada bidang lingkaran silinder dengan diameter tertentu dan tetap.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Karena peristiwa-peristiwa sekarang memiliki benihnya pada masa lampau maka kerap kali fakta itu diseret-seret terus dalam memori manusia.<span> </span>Semuanya merupakan suatu kesatuan dan kontinuitas yang tidak terputuskan.<span> </span>Walaupun sebenarnya dapat terbedakan dan terpisahkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Manusia suka mengingat-ingat kenangan manis dan lucu dari masa lampau.<span> </span>Obat paling ampuh untuk jiwa yang sedang bersedih ialah membuka album foto masa lampau.<span> </span>Memperhatikan foto-foto kawan-kawan atau sanak sewaktu mereka masih kecil atau muda. Betapa lucu dan menggelikannya mreka itu.<span> </span>Orangpun kemudian dapat tersenyum sendiri dan menghela napas kelegaan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Manusia juga suka mengingat-ingat prestasi diri di masa lampau.<span> </span>Menyesalkan kondisi terpuruk atau tak berdaya di masa kini.<span> </span>Betapa bangganya mengenang kembali kejayaan masa lampau.<span> </span>Dari sinilah terbit yang dinamakan <span> </span><em>post power syndrome.</em> Persis seperti menyaksikan perilaku tersangka pidana pelanggaran HAM di sidang pengadilan negeri.<span> </span>Dia yang meski tetap tampak tersisa sikap garangnya namun lebih tampak seperti singa yang sudah kehilangan taringnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Mengungkit-ungkit jasa masa lampau juga merupakan bentuk kebiasaan buruk manusia<em>. “Kalau tidak ada saya waktu itu yang menolong dia, mungkin kini ia sudah terpuruk di kolong jembatan.</em><span> </span><em>Kini kalau kebetulan berpapasan di jalan dan bersirobok mata, berani-beraninya ia melengos seakan-akan tidak pernah kenal saya. Sakit hati ini mas… sakit sekali rasanya…”</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Sayangnya &#8211; dan nyatanya wajah manusia menghadap ke depan.<span> </span>Bukan berada di tengkuk dan menghadap ke belakang.<span> </span>Konon manusia purba [dan juga manusia rimba] mampu <em>merasakan</em> ancaman bahaya dari arah belakang. <span> </span>Itu sama tajamnya dengan melihat bahaya nyata yang menghadang di depan mata. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Karena kelenjar <em>pineal</em> mereka masih berfungsi purna dan normal. Mampu menyerap getaran-getaran halus bahaya lewat bulu tengkuknya yang [mungkin] teramat peka untuk <span> </span>selalu siap meremang.<span> </span>Mementung kepala manusia modern lebih mudah dari pada terhadap rekannya manusia rimba.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Karena manusia secara harafiah tidak bisa menatap masa kini maka ia hanya bisa menatap masa depan.<span> </span>Entah beberapa jauhnya jarak ke muka.<span> </span>Atau menerobos tabir hari esok untuk meninjau secara abstrak masa jangka menengah atau jangka panjang.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Visualisasi<strong> </strong>merupakan kapabilitas <span> </span>yang memungkinkan manusia untuk menggambarkan tujuan pada masa yang akan datang.<span> </span>Memampukan ia untuk <span> </span>berlari, mengejar, dan menyongsong masa depannya.<span> </span>Tanpa visualisasi manusia hanya akan terus terperangkap <span> </span>pada <em>kerangkèng</em> masa sekarang.<span> </span>Entah kondisi itu sedang bagus. Ataupun malah sedang <em>apês</em>, sedang terpuruk seburuk-busuknya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Setiap kali kita merasa <em>minder</em> dan tak berguna melangkahlah tegap menghadap ke depan.<span> </span>Setiap kali merasa terkurung pada kondisi buruk masa kini tataplah matahari yang baru terbit di ufuk Timur.<span> </span>Visualisasikan <em>panorama sunrise</em> ini sejelas dan sebening-beningnya. Kemudian simpan sedalam-dalamnya <span> </span>memori ini ke dalam kalbu kita.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Setiap kali kita merasa akan berputus asa, pejamkan mata sejenak dan terbitkan panorama <em>sunrise</em> itu ke layar telivisi maya di depan pelupuk mata kita.<span> </span>Maka jiwa kita seakan mendapat suntikan energi murni yang baru. Untuk mampu semakin mantap dalam melangkah maju menuju ke ufuk Timur. Menuju titik terbitnya hari esok yang semakin cemerlang.<span> </span>[JS]</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/juswan.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/juswan.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/juswan.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/juswan.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/juswan.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/juswan.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/juswan.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/juswan.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/juswan.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/juswan.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/juswan.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/juswan.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/juswan.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/juswan.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juswan.wordpress.com&amp;blog=3384217&amp;post=109&amp;subd=juswan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://juswan.wordpress.com/2008/12/19/menatap-ufuk-masa-depan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/549bfe6e20ea8b0b81d7068d625199bd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">juswan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Muka Yang Menghadap Ke Depan</title>
		<link>http://juswan.wordpress.com/2008/12/19/muka-yang-menghadap-ke-depan/</link>
		<comments>http://juswan.wordpress.com/2008/12/19/muka-yang-menghadap-ke-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2008 11:10:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>juswan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[religion]]></category>
		<category><![CDATA[Muka Ke Depan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://juswan.wordpress.com/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Suatu saat saya mendapat wangsit [caileeeh !] begini. “Kalau berjalan harus tegap. Muka menghadap ke depan. Hanya satwa yang menghadap ke tanah.” Bujubusett… boljug nasihat ini. Hanya kebo atau huk-huk yang berjalan sambil menatap sendu wajah ibu Pertiwi. Sambil kopat kapit ekornya mengusir lalat. Berjalan dengan kepala tertunduk dan menghadap ke bumi dalam istilah tanah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juswan.wordpress.com&amp;blog=3384217&amp;post=101&amp;subd=juswan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Suatu</span><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> saat saya mendapat <em>wangsit</em> [<em>caileeeh !</em>] begini. <span> </span>“Kalau berjalan harus tegap. Muka menghadap ke depan. Hanya satwa yang menghadap ke tanah.” <em>Bujubusett… boljug</em> nasihat ini.<span> </span>Hanya kebo atau <em>huk-huk</em> yang berjalan sambil menatap sendu wajah ibu Pertiwi. Sambil <em>kopat kapit</em> ekornya mengusir lalat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Berjalan</span><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> dengan kepala tertunduk dan menghadap ke bumi dalam istilah tanah leluhur disebut “menghitung jari kaki” [<em>soan ciok ci</em>].<span> </span>Jari kaki kok dihitung? Ya karena tidak tahu apa lagi yang harus dikerjakan. Karena depresi dan putus asa!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Manusia</span><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> diciptakan dengan wajah di depan. Bukan di samping atau di atas. Pernah lihat ikan pari? <span> </span><span> </span>Nah, wajahnya memang di atas ya.<span> </span>Dan ada ikan-ikan lain yang matanya di samping kuping. <span> </span>Mata ikan mas koki masih mendingan, agak ke depan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Apa</span><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> makna tersirat wajah di depan?<span> </span>Tataplah cakrawala masa depanmu. Jangan menoleh terus ke belakang. <em>Tengeng</em> leher kau nanti!<span> </span>Mengapa menatap ke bumi? Karena yang indah itu bukan lumpur lapindo.<span> </span>Masih ada bintang fajar di ufuk Timur. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Konon</span><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> saat Allah menghukum kota maksiat Sodom dan Gomora turunlah hujan api dan belerang panas. Isteri Lot menoleh ke belakang. Iapun terkutuk menjadi tiang garam. Menoleh ke belakang dapat berarti menyesalkan kenikmatan dunia yang terpaksa ditinggalkan. Jadi menyiratkan tidak adanya proses penyesalan atau pertobatan. Tidak menyesal dan tidak bertobat tentunya mendatangkan penghukuman.<span> </span>Apalagi sudah diberikan peringatan keras oleh dua orang malaikat:<span> </span>“<em>Jangan menoleh ke belakang… supaya jangan engkau mati lenyap</em>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Dalam</span><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> Injil juga ada teguran keras begini. “<em>Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah</em>.” Lucu sekali membayangkan <em>kebo</em> pak tani yang sedang membajak tetapi sebentar-sebentar menoleh ke belakang. <span> </span>Tentu alur bajakannya tidak lurus melainkan seperti bekas aluran perut ular yang berkelok-kelok di atas pasir atau lumpur.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Dalam kultur Barat dinilai tidak sopan apabila orang berkomunikasi tatap muka tetapi tidak melakukan <em>eye contact</em>. Kalau muka <em>diplengoskan</em> terus mana bisa orang mengadakan kontak mata? Anak yang merasa bersalah menundukkan kepalanya bila berhadapan dengan guru atau orang tuanya. Para PKS atau waria yang kena ciduk dalam operasi susila bukan hanya menunduk tetapi mencoba menutup wajahnya dengan rambut atau bajunya.</span><span style="font-family:&quot;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Menunduk</span><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> adalah <em>body language</em> untuk rasa malu dan rasa bersalah.<span> </span>Menatap mata-ke-mata menandakan ketulusan dalam berkomunikasi. <span> </span>Bisa juga bersikap menantang yang menyiratkan adanya semacam animo keberanian yang superior atau minimal egaliter. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Yaitu</span><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> </span></strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">bila disertai sorot mata <em>nyalang</em> yang mengandung aura merah kemarahan. Atau bersikap merendahkan apabila disertai sorot<span> </span>mata penuh penghinaan. Atau <span> </span>pula merupakan pelecehan seksual bila disertai sorot mata yang mesum<em> </em>atau<em> ganjen</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Secara</span><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> </span></strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">fisikal kalau orang berjalan sambil terus menoleh ke belakang akan kehilangan kewaspadaan. <span> </span>Bisa saja tahu-tahu ia kerosok ke lobang got. <span> </span>Atau lebih celaka lagi ia tertabrak kendaraan yang melaju pesat dari arah depan. Ia akan kehilangan waktu yang cukup untuk mengindari tabrakan maut tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Secara</span><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> </span></strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">emosional dan psikologis orang yang menoleh terus ke belakang menandakan hati yang rusuh, bimbang dan tidak tenang.<span> </span>Takut ada musuh yang menyerang dari arah belakang. <span> </span>Takut kelihatan oleh orang-orang, misalnya karena baru saja menjambret atau mencopet.<span> </span>Atau takut sendiri karena sedang berjalan menuju ke suatu tempat yang <em>tidak baik</em> atau terlarang.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Secara</span><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> spiritual pandangan wajah ke depan bermakna <em>eskatologis</em>.<span> </span>Seperti filsuf Teilhard de Chardin orang yakin bahwa ras kemanusiaan ini sedang bergerak maju serempak secara evolusioner menuju ke titik Omega. [JS]</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/juswan.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/juswan.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/juswan.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/juswan.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/juswan.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/juswan.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/juswan.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/juswan.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/juswan.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/juswan.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/juswan.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/juswan.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/juswan.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/juswan.wordpress.com/101/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juswan.wordpress.com&amp;blog=3384217&amp;post=101&amp;subd=juswan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://juswan.wordpress.com/2008/12/19/muka-yang-menghadap-ke-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/549bfe6e20ea8b0b81d7068d625199bd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">juswan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berpikir Positif Saja Tidak Cukup</title>
		<link>http://juswan.wordpress.com/2008/12/19/berpikir-positif-saja-tidak-cukup/</link>
		<comments>http://juswan.wordpress.com/2008/12/19/berpikir-positif-saja-tidak-cukup/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2008 03:25:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>juswan</dc:creator>
				<category><![CDATA[religion]]></category>
		<category><![CDATA[value thinking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://juswan.wordpress.com/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Berpikir positif memang bagus. Jauh lebih bagus dari berpikir negatif atau berpikir ngeres. Apalagi bila dibandingkan dengan tidak bisa berpikir jernih boro-boro berpikir kreatif. Tetapi manusia bukan hanya otak. Manusia juga punya kulit. Punya emosi. Punya nurani. Dan punya iman. Kalau begitu kenapa hanya perlu berpikir positif saja? Pikiran bukan pusat dan bukan segala-galanya bagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juswan.wordpress.com&amp;blog=3384217&amp;post=96&amp;subd=juswan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:18pt;font-family:&quot;">B</span></strong><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">erpikir positif memang bagus. Jauh lebih bagus dari berpikir negatif atau berpikir <em>ngeres</em>. Apalagi bila dibandingkan dengan tidak bisa berpikir jernih boro-boro berpikir kreatif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">Tetapi<strong><span> </span></strong>manusia bukan hanya otak.  Manusia juga punya kulit. Punya emosi.  Punya nurani.  Dan punya iman. Kalau begitu kenapa hanya perlu berpikir positif saja?  Pikiran bukan pusat dan bukan segala-galanya bagi seorang manusia.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">Kalau seorang jatuh dari motor dan kakinya patah, maka yang pertama-tama terjadi bukan memikir melainkan merasa dan merasakan.  Sensasi syaraf peraba dan sensasi emosional lebih dominan dari segala-galanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">Tidak mungkin menuntut si korban pada saat itu berpikir positif dan dengan gagah perwira berkata:  “Ah, cuma patah kaki. Tidak sampai mati kok. Jadi <em>think positive man</em>!” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">Coba saja saat itu nasihati dia untuk berpikir positif karena ia tidak celaka sampai mati.  Pasti akan mendapat apresiasi berupa ketupat bengkulu.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">Berpikir adalah fakultas manusia paling akhir.  Yang paling primitif dari organ indera manusia ialah alat perabaan. Dingin atau panas. Kasar atau halus. Sakit atau senang [<em>sekèco</em>, Jawa]. Organ indera selanjutnya ialah pencicip. Enak atau tidak. Pahit-manis. Pedas-tawar. Kemudian baru penghidu. Busuk-harum. Tajam [<em>semriwing</em>, Jawa] atau <em>soft</em>. Pendengaran dan penglihatan menduduki posisi semi final dan final. Ikan sama sekali tidak punya telinga dan kelelawar sama sekali tidak punya mata.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">Maka<strong><span> </span></strong>manusia menghayati peristiwa-peristiwa di dunia ini pertama-tama melalui pengalaman inderawi atau fisikalnya.  Jika ia jatuh patah kaki maka yang dihayati pertama-tama ialah rasa nyeri kulit yang terbeset dan tulang yang patah.  Ia sama sekali tidak melakukan aktivitas berpikir. Entah berpikir negatif ataupun positif. Ia belum sempat melakukan analisis maupun evaluasi. Bahkan mungkin pikiran pertama yang muncul malah:  “<em>Mati aku !</em>”  Atau justru berteriak: “<em>Auw… sakit!</em>” Pikiran seperti itu muncul secara spontan [<em>pop up</em>] tanpa melalui proses berpikir sama sekali.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">Jadi sebelum terjadi proses berpikir atau <em>kogitasi </em>[<em>cogito ergo sum</em>] terlebih dahulu terjadi proses sensitisasi [<em>sentio ergo sum</em>]. Sensitisasi terjadi secara spontan.  Informasi sakit dan nyeri dari luka ke pusat syaraf berlangsung secepat kilat dalam hitungan <em>nano-detik</em>.  Kogitasi baru terjadi kemudian dan melalui proses panjang berpikir dan berefleksi [<em>considero ergo sum</em>].<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">Kalau berbicara mana lebih penting, apakah ‘merasakan’ atau ‘berpikir’ maka pertanyaannya menjadi agak kurang relevan.  Sama saja dengan bertanya lebih penting mana, makan atau tidur? Tidak makan orang pasti mati. Tetapi mel<em>è</em>k terus [tidak tidur] juga tidak pasti orang bisa bertahan tetap hidup. Konon orang Indian kuno menyiksa tawanan mereka dengan cara memotong kelopak matanya. [Kini cukup diplester saja…]<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">Berpikir positif sangat bagus tetapi tidak pernah cukup.  Lebih penting ialah berpikir seimbang [<em>balanced thinking</em>]. Dan yang paling penting ialah berpikir dengan berfokuskan nilai [<em>value oriented</em>]<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;"><strong>Balanced Thinking</strong></span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><br />
</span><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">Manusia harus terus berusaha menyeimbangkan pikiran-pikiran dari berbagai egonya. Tidak boleh terjadi konflik-konflik.  Konflik pikiran antara ego-ego itu dapat menyebabkan berbagai penyakit psikologis bahkan penyakit fisikal, atau bauran keduanya [<em>psycho-somatic syndrome</em>].  Suara dari ego-pikiran tidak boleh konflik dengan suara ego-nafsu, dan ego-emosinya.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;"><strong>Value-driven Thinking</strong></span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><br />
</span><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">Untuk mendamaikan suara-suara polutif yang silang-sengkarut dari ego-fisikal [nafsu, inderawi], ego-pikiran dan ego-emosi diperlukan suatu bobot yang kuat yang berfungsi sebagai <strong>jangkar</strong>. Sekaligus sebagai juru damai dan kompas. Yaitu suara ego-nurani yang berfokus pada nilai-nilai unggul kehidupan.  <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">Dari sumber mana saja nilai-nilai ini diadopsikan tidak menjadi masalah benar. Setiap nilai unggul berasal dari <em>wahyu ilahi</em> atau <em>logos</em>. Entah itu bersumber pada Alkitab, <em>proverbia</em>, falsafah hidup [termasuk <em>Kejawen</em>], atau <em>aphorisma</em>.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">Bagi<strong> </strong>manusia rasional berpikir positif itu penting. Bagi manusia integral lebih penting lagi cara berpikir yang value-driven. Cara berpikir yang dimotori dan dikendalikan oleh nilai-nilai dan prinsip-prinsip. [JS]</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/juswan.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/juswan.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/juswan.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/juswan.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/juswan.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/juswan.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/juswan.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/juswan.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/juswan.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/juswan.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/juswan.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/juswan.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/juswan.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/juswan.wordpress.com/96/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juswan.wordpress.com&amp;blog=3384217&amp;post=96&amp;subd=juswan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://juswan.wordpress.com/2008/12/19/berpikir-positif-saja-tidak-cukup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/549bfe6e20ea8b0b81d7068d625199bd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">juswan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Paradoks Kekuatan Manusia</title>
		<link>http://juswan.wordpress.com/2008/12/18/paradoks-kekuatan-manusia/</link>
		<comments>http://juswan.wordpress.com/2008/12/18/paradoks-kekuatan-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2008 04:44:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>juswan</dc:creator>
				<category><![CDATA[religion]]></category>
		<category><![CDATA[kuat dan lemah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://juswan.wordpress.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Merasa Kuat Manusia yang merasa dirinya kuat yakin mampu untuk menghadapi segala macam godaan. Tetapi begitu tergoda kenyataannya ia kerapkali ia langsung jatuh. Dan iapun merasakan kekecewaan yang mendalam. Apa sebenarnya yang salah di sini? Ternyata kenyataannya, mungkin saja ia memang kuat menghadapi godaan dalam bidang tertentu. Atau setidak-tidaknya ia merasa demikian. Tetapi ada banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juswan.wordpress.com&amp;blog=3384217&amp;post=93&amp;subd=juswan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Merasa Kuat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Manusia yang merasa dirinya kuat yakin mampu untuk menghadapi segala macam godaan.<span> </span>Tetapi begitu tergoda kenyataannya ia kerapkali ia langsung jatuh. <span> </span>Dan iapun merasakan kekecewaan yang mendalam.<span> </span>Apa sebenarnya yang salah di sini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Ternyata kenyataannya, mungkin saja ia memang kuat menghadapi godaan dalam bidang tertentu.<span> </span>Atau setidak-tidaknya ia merasa demikian.<span> </span>Tetapi ada banyak macam godaan. <span> </span>Dan ternyata menghadapi godaan dalam bidang lain ia sama sekali tidak memiliki kekuatan yang berarti untuk menghadapinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Mo Limo</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Ada lima bidang kelemahan manusia. <strong><em>Mo limo</em></strong> [bhs. Jawa]. <span> </span>Maling, madat, minum, madon dan main. <span> </span>Kekuatan seseorang menghadapi kelima jenis godaan ini berbeda-beda.<span> </span>Mungkin ia tidak pernah mabuk, kecanduan narkoba atau main perempuan. <span> </span>Tetapi ia sangat mudah tertarik bertaruh atau main judi. <span> </span>Untuk modal bermain ia tidak segan-segan untuk mencuri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Atau ia tidak suka main judi atau menghisap ganja. Tetapi ia sangat gemar main perempuan [<em>womanizing</em>].<span> </span>Untuk itu ia tidak segan korupsi atau maling untuk membiayai kebiasaan buruknya itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Ada pula</span></strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> yang tidak suka minum, madat, madon maupun mabuk-mabukan. <span> </span>Tetapi ia mengidap semacam <em>kleptomani </em>yang parah.<span> </span>Kesempatan sekecil apapun akan dimanfaatkannya untuk mencuri. <span> </span>Prinsipnya: Setiap kali pulang rumah ia harus membawa sesuatu yang <em>tangible</em>, <span> </span>bagaimanapun caranya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Maka</span></strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> ia bisa saja <em>menilep</em> kertas dari kantor.<span> </span>Mencuri sendok garpu dari restoran.<span> </span>Memasukkan handuk aau asbak hotel ke dalam kopor. Mengantongi pisau bistik dari pesawat terbang.<span> </span>Memetik bunga dari halaman kawan.<span> </span>Mencuri mangga dari kebun kampung sebelah. Mencuri ide orang lain untuk skripsi sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Ia merasa</span></strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> kecewa atas dirinya karena bisa saja kesalahan yang sama berulang kali. Makin lama semakin parah dan berubah menjadi semacam <em>obsesi</em>. Ia jatuh dan jatuh lagi. Persis seperti lalat terperangkap dalam sarang laba-laba [<em>cobweb theorem</em>].<span> </span>Semakin ia menggeliat dan memberontak, semakin erat ia akan terikat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Paradigm Perubahan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Bila paradigm berpikir tidak berubah, <span> </span>maka realitas yang menjadi output perilaku seseorang tidak mungkin berubah juga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Apa yang salah di sini? Masalahnya ialah bila seseorang merasa dirinya kuat ,lalu sebenarnya yang merasa kuat itu ego dia yang satu mana?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Ego-pikiran</span></strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> ataukah ego-perasaan?<span> </span>Ia pikir ia kuat; ia merasa dirinya kuat.<span> </span>Apakah benar demikian? Apakah ia memang sekuat seperti apa yang ia pikir dan rasakan?<span> </span>Ternyata tidak selamanya demikian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Ego-fisik</span></strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> ternyata tidak selalu sekuat kedua ego tadi. Tidak sekuat ego-pikiran dan ego-perasaan. Ternyata ia mudah sekali jatuh ego-fisiknya [baca:<span> </span>ego-nafsunya].<span> </span>Begitu nafsunya terangsang, maka logikanya tidak jalan lagi. <span> </span><em>Macet…cet…cet…</em><span> </span>Artinya ego-pikirannya menjadi lumpuh total.<span> </span>Juga ego-perasaannya tidak berfungsi lagi.<span> </span><span> </span>Ia menjadi seperti orang yang mati rasa saja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Kejatuhan Manusia</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Manusia jatuh oleh nafsu bukan pertama-tama oleh logika.<span> </span>Logikanya boleh merancang segala macam rekayasa pengendalian dan penguasaan diri.<span> </span>Tetapi begitu nafsu menguasai tubuhnya maka otaknya menjadi <em>letoy</em>.<span> </span>Seta merta menyerah tanpa perlawanan sedikitpun. Manusia juga jatuh oleh perasaan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Korban Kekerasan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Secara logika wanita yang disiksa oleh suaminya mempunyai seratus alasan untuk <span> </span>minta cerai.<span> </span>Tetapi ternyata tidak.<span> </span>Ia mempunyai harapan palsu terhadap penyesalan suaminya.<span> </span>Perasaannya<span> </span>menjadi kacau.<span> </span>Ia merasa masih ada harapan suaminya suatu saat akan berubah.<span> </span>Asalkan ia sabar saja menderita sejenak.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Setiap kali</span></strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> setelah melakukan KDRT suaminya menghiba-hiba minta maaf atau minta ampun.<span> </span>Tidak jarang dengan berlutut dan mengeluarkan air mata buaya.<span> </span>Juga disertai dengan hadiah kompensasi ini atau itu.<span> </span>Berjanji tidak akan mengulangi kekhilafannya.<span> </span>Tetapi ternyata begitu suaminya dikuasai ego fisiknya kembali<span> </span>maka KDRT pun terulang kembali. <span> </span>Persis seperti film yang ditayang ulang di bioskop.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Secara perasaan istri itu masih menyimpan memori <span> </span>cinta pertama terhadap suaminya tersebut.<span> </span>Dan ia enggan untuk berpisah dengan <em>sweet memory</em> tersebut walaupun dalam realitas kenyatannya bertolak belakang.<span> </span>Secara logika baginya lebih baik mengalami perlakuan yang buruk daripada sama sekali kehilangan kepastian hidup bila terpisah dengan suaminya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Bruce Lee</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Bruce Lee mati pada saat fisiknya terlatih secara maksimum.<span> </span>Ia telah mengembangkan otot, fisik, dan kecepatan pukulannya sedemikian rupa sehingga tidak ada musuh yang tidak dapat dikalahkannya.<span> </span>Ternyata kondisi <em>over-exercise</em> tersebut menyebabkan sakit kepala yang hampir tak tertahankan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Maka ia akhirnya kedapatan mati pada tanggal 2 Juli 1973 di apartemen sejawatnya, aktris <span> </span>Betty Ting Pei setelah menenggak Equagesic semacam obat analgesika yang sangat keras.<span> </span><span> </span>Ia mati karena alergi terhadap zat aktif obat tersebut yang telah mengakibatkan <em>lesi </em>pada otaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Petrus</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Petrus juga merasa hebat dan <em>overconfidence</em>.<span> </span>Pada saat Tuannya mengatakan bahwa Mesias harus menderita dan mati, <span> </span>ia sesumbar akan membela Tuannya sampai titik darah yang pernghabisan.<span> </span>Ia tidak akan membiarkan petaka seperti itu terjadi pada Tuannya.<span> </span>Ia merasa dirinya sangat hebat dan kuat.<span> </span>Baik secara fisik maupun secara mental. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Namun kenyataannya seperti langit dengan bumi.<span> </span>Begitu ditantang untuk mengakui dirinya sebagai salah seorang murid daripada Tuannya ia menyangkal beberapa kali.<span> </span>Bahkan pakai sumpah segala.<span> </span>Sebelum ayam berkokok ia telah <span> </span>beberapa kali dengan <em>cool blooded</em> menyangkal Tuannya.<span> </span>Begitu menghadapi kenyataan akan kemungkinan dirinya ditangkap seperti tuannya, maka ia langsung jatuh ke dalam pengkhianatan dan ketidaksetiaan.<span> </span>Yang merasa dirinya kuat ternyata begitu mudah jatuh akibat kelemahannya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Adam dan Hawa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Pada saat Adam tunduk pada kehendak Hawa &#8211; dan bukan lagi tunduk kepada kehendak Allah, <span> </span>maka <span> </span>ia jatuh tanpa perlawanan sama sekali ke dalam dosa.<span> </span>Ia makan “buah pengetahuan buruk dan baik” dengan tergesa-gesa tanpa berkedip.<span> </span>Akibatnya, <span> </span>iapun <span> </span><em>keselek </em>dan meninggalkan tanda <em>stigmata</em> dosa berupa jakun pada setiap pria yang mengambil bagian dalam garis kemanusiaan yang dirintisnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Masih mendingan manusia menganggap dirinya lemah dan rawan godaan.<span> </span>Untuk itu ia memerlukan nilai kerendahan hati.<span> </span>Juga perlu memelihara nilai kewaspadaan.<span> </span>Bagi yang kerap jatuh terduduk dan terpuruk hanya ada satu jalan keluar yaitu ke arah atas. <span> </span>Untuk mulai bangkit dan berusaha berdiri tegak kembali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Merasa Lemah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Pada saat manusia merasa lemah ia sadar membutuhkan bantuan <em>liyan</em>.<span> </span>Pada saat ia merasa dirinya kuat dan hebat ia cenderung menyingkirkan semua <em>liyan</em>.<span> </span>Ia tidak membutuhkan bantuan apapun dari mereka itu.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Keguyuban</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Dalam kemiskinannya masyarakat miskin memiliki rasa saling membutuhkan yang kuat, solider dan akrab.<span> </span>Dengan meningkatnya kemakmuran pribadinya, <span> </span>manusia merasa semakin kuat dan independen.<span> </span>Bahkan kadang-kadang ia merasa tidak memerlukan bantuan dari Allahnya sekalipun.<span> </span>Ia menjadi manusia yang angkuh dan tetapi lemah.<span> </span>Sepertinya tampak kokoh dan perkasa di luar tetapi ternyata sesungguhnya ia sangat rentan dan rapuh di sebelah dalamnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Kebutuhan Berdoa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Sebaliknya manusia yang merasa dirinya lemah [<strong><em>sèkèng</em></strong>; bhs. Jawa] saat akan menghadapi godaan ia sadar bahwa dirinya membutuhkan bantuan ilahi.<span> </span>Ia membutuhkan vitamin dan supplemen spiritual.<span> </span>Karena merasa lemah ia tidak malu dan segan terus memohon kepada Allahnya untuk diberi kekuatan dan kharismata.<span> </span>Karena terus memohon maka pada gilirannya kepadanya akan diberikan rahmat dan kekuatan untuk menghadapi godaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Paradox</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Itulah paradox kekuatan dan kelemahan manusia:<span> </span>Pada saat manusia merasa kuat ia berada pada titik terlemah.<span> </span>Pada saat ia merasa lemah ia semakin diperkuat dan diperkuat sehingga akhirnya benar-benar menjadi kuat. [JS]</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/juswan.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/juswan.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/juswan.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/juswan.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/juswan.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/juswan.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/juswan.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/juswan.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/juswan.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/juswan.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/juswan.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/juswan.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/juswan.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/juswan.wordpress.com/93/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juswan.wordpress.com&amp;blog=3384217&amp;post=93&amp;subd=juswan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://juswan.wordpress.com/2008/12/18/paradoks-kekuatan-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/549bfe6e20ea8b0b81d7068d625199bd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">juswan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nilai Dalam Konstelasi Waktu</title>
		<link>http://juswan.wordpress.com/2008/12/18/nilai-dalam-konstelasi-waktu/</link>
		<comments>http://juswan.wordpress.com/2008/12/18/nilai-dalam-konstelasi-waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2008 01:51:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>juswan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[value]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://juswan.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Waktu adalah suatu rentangan garis kontinuum. Yaitu garis yang membentang terus menerus secara tidak terputus-putus. Malahan garis itu tidak mempunyai titik awal. Dan belum sampai atau bahkan tidak mempunyai titik ujung. Otak manusia tidak mampu memahami garis spektakuler semacam itu. Maka otak membaginya ke dalam dua bagian kelompok utama. Kedua kelompok utama itu ialah kelompok [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juswan.wordpress.com&amp;blog=3384217&amp;post=86&amp;subd=juswan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:20pt;font-family:&quot;">W</span><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">aktu adalah suatu rentangan garis kontinuum. Yaitu garis yang membentang terus menerus secara tidak terputus-putus. Malahan garis itu tidak mempunyai titik awal. Dan belum sampai atau bahkan tidak mempunyai titik ujung.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> Otak manusia tidak mampu memahami garis spektakuler semacam itu. Maka otak membaginya ke dalam dua bagian kelompok utama. Kedua kelompok utama itu ialah kelompok “waktu sekarang” dan kelompok “bukan-sekarang”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">Bagian pertama kelompok waktu “bukan-sekarang” ialah penggalan garis waktu dari titik sekarang yang surut ke belakang. Disebut waktu lampau. Dan bagian kedua, ialah penggalan garis waktu dari titik sekarang menuju ke depan. Disebut waktu mendatang.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> Karena titik waktu sekarang bersifat dinamis [terus bergerak] maka manusia sebenarnya hanya mengenal waktu lampau dan waktu yang akan datang. Begitu manusia berpikir tentang waktu sekarang maka periode itu serta merta telah berubah menjadi bagian waktu lampau. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">Pemenggalan waktu atau periodisasi mutlak dibutuhkan manusia. Ada jangka pendek, menengah, dan panjang. Baik ke arah belakang, maupun ke arah depan. Disepakati kesatuan terkecil waktu ialah detik. [Kita lupakan saja istilah nano-detik ataupun piko-detik]. Kemudian disepakati pula kesatuan menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, windu, dekade, abad, milenium dan seterusnya. <strong><br />
</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"><strong> Periodisasi waktu. </strong><br />
Periodisasi waktu dibutuhkan manusia untuk mengorganisir data maupun informasi yang tercakup dalam kurun waktu tersebut. Ke arah masa lampau demi kepentingan sejarah. Ke arah masa depan demi perencanaan jangka pendek, menengah dan panjang. Tanpa perencanaan manusia tidak mampu berbuat apa-apa untuk menghasilkan keluaran secara efektif dan efisien. <strong><br />
</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"><strong> Kaitan periodisasi dengan nilai</strong><br />
Kejadian masa lampau disebut fakta. Dalam bahasa Latin ‘factum’ berarti sudah dibuat atau sudah terjadi. Kalau sudah terjadi maka tidak bisa berubah lagi. Tidak ada kekuatan apapun yang mampu mengubah kejadian di masa lampau. Maka disebut juga data. Data dari kata ‘datum’ artinya ‘telah diberikan’ atau ‘telah tersedia’.  Sudah siap saji atau siap untuk ditelan.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> Kejadian di masa lampau ada yang manis dan ada yang pahit.  Manusia suka mengenang hal-hal yang manis.  Tetapi tidak suka mengenang hal-hal yang pahit. Hal-hal yang pahit telah menggores semacam luka di dalam batin manusia. Luka batin itu dapat bertahan untuk waktu yang panjang.  Bahkan ada yang sampai seumur hidup.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> Sikap manusia terhadap peristiwa yang pahit dan tidak mungkin diubah lagi itu pada umumnya menyesalkannya. Dari perasaan yang ringan seperti kecewa, menyesal sampai kepada penyesalan seumur hidup. Setiap kali teringat peristiwa tersebut maka luka batin kembali mengeluarkan “darah” disertai rasa nyeri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">Melebihi nyeri disayat sembilu. Sayatan sembilu dapat sembuh tetapi luka batin dapat bertahan seumur hidup. Walaupun ada pepatah: “Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna” dalam kenyataannya tidak ada yang namanya “sesal dahulu”. Sesal selalu terjadi sesuah kejadiannya [secara post factum].<br />
<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"><strong>Nilai Ikhlas</strong><br />
Menghadapi kemungkinan munculnya rasa sesal berkepanjangan dan tidak produktif ini manusia perlu mengadopsi <strong><em>nilai ikhlas</em></strong>. Ikhlas adalah kemampuan moral untuk menerima fakta sebagai data konstan. Sebagai hal yang tidak bisa diubah lagi. Jadi harus diterima sebagai apa adanya saja. Dan diterima sebagai hal yang terjadi di masa lampau yang tidak perlu terus menerus disesali pada masa sekarang. <strong><br />
</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"><strong> Nilai Syukur</strong><br />
Menghadapi peristiwa-peristiwa sekarang manusia dapat merasa kecewa. Kecewa karena tidak sesuai dengan target atau harapan seseorang. Manusia menginginkan sesuatu yang lebih maksimal lagi. Manusia tidak puas dengan sesuatu yang sifatnya minimalis. Maunya menjadi kaya raya tetapi kenyataannya hanya mampu menjadi pegawai rendahan. Maunya mendapat untung miliaran, nyatanya hanya mendapatkannya dalam angka ribuan saja.<br />
<strong><span></span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"><strong><span>Nilai syukur</span></strong> ialah nilai yang memandang situasi dan kondisi tertentu, [termasuk pencapaian tertentu], sebagai hasil optimal yang tersedia. Bersyukur karena tidak terjadi kondisi yang lebih parah lagi dari pada kondisi yang terjadi sekarang. Misalnya, ia sakit namun tidak sakit parah. Ia sakit keras tetapi tidak sampai fatal atau mematikan. Ia mengalami musibah tetapi bukan yang mengharuskan anggota tubuhnya harus diamputasi. Ia tidak kaya namun tidak sampai harus tinggal di kolong jembatan.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> Bagi orang beriman [beragama] kondisi optimal itu dipandang sebagai karunia Allah. Atau berkat dari pada doa. Bagi yang tidak beragama kondisi optimal itu dipandang sebagai suatu kemujuran [good luck]. Bukan suatu kemujuran yang bersifat kebetulan [acak]. Melainkan suatu sinkronitas yang positif. Positif karena tidak mendatangkan kerugian [lebih besar lagi] bagi dirinya. Karena itu ia merasa perlu selalu bersyukur. <strong><br />
</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"><strong> Nilai Pasrah</strong><br />
Menghadapi masa depan manusia dibekali oleh dua bentuk antisipasi kejiwaan. Dua kekuatan yang antagonis. Harapan yang besar dan indah. Atau sebaliknya kekuatiran akan kegagalan. Ada semangat optimisme dan pesimisme. <em>Optima</em> artinya keadaan terbaik. Sedangkan <em>pessima</em> artinya keadaan terburuk.<br />
<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"><strong>Optimalisme</strong><br />
Manusia yang mentargetkan hasil yang <em>maksimalis</em> akan merasa kecewa karena hasil maksimal memang tidak selalu mungkin tercapai. Manusia <em>minimalis</em> menetapkan target yang terlalu rendah, maka iapun kecewa terhadap kenyataan hasil sebenarnya yang memang hanya minimal. Di antara kedua ujung ekstrim tersebut terdapat kondisi yang lebih realistis dan terjangkau yaitu sasaran <em>optimalis</em>.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> Manusia sadar bahwa ia dapat mempengaruhi <em>output</em> di masa depan dengan cara mempengaruhi <em>input</em> pada masa sekarang. Tetapi ia sadar pula bahwa ia tidak mungkin mengendalikan sepenuhnya masa depannya. Terlalu banyak lobang kebocoran pada jala yang menjaring peluang-peluang masa depan. Terlalu banyak faktor variabel berada di luar kemampuan pengendalian manusia. Terutama ia tidak mungkin mampu untuk mengendalikan takdirnya.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> Takdir adalah faktor <em>konstante</em> yang sama sekali di luar pengendaliannya. Bahkan banyak hal yang dapat terjadi berada di luar perkiraannya. Hal-hal yang dapat meleset dari perhitungannya. Misalnya, siapa dapat mengira bahwa negara Amerika Serikat yang superpower itu dapat ambruk demikian parah oleh krisis keuangan dalam negerinya.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> Maka dari itu terdapat kecenderungan sebagian manusia untuk menyenangi ramalan-ramalan paranormal. Karena paranormalisme mampu memberikan [sebagian] informasi tentang masa depan yang tidak mungkin terjangkau oleh penalaran logis biasa.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> Bagi manusia beriman [beragama] dalam menghadapi ketidakpastian masa depan [<em>future</em> <em>uncertainties</em>] perlu diperlengkapi dengan perisai <strong><em>nilai kepasrahan.</em></strong> Bukan jenis pasrah yang membuat orang tengkurap dan membiarkan segala sesuatunya diatur oleh nasib semata-mata.<br />
<strong><span></span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"><strong><span>Ora et labora</span></strong><br />
Manusia beriman dengan nilai kepasrahannya mengandalkan kekuatan doa dalam pengharapan dan sekaligus juga ikhtiar [<em>labora</em>]. Orang yang tidak percaya lagi kepada kekuatan doa serta berhenti berikhtiar, segera menjadi manusia yang berada di tepi jurang keputusasaan. Sebaliknya manusia yang beriman dan yang berpengharapan tidak akan jatuh ke dalam lembah kekelaman tersebut.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> Kita mungkin masih teringat akan kisah ibu yang tega menghabiskan nyawa anak-anaknya sendiri karena dikuasai rasa kuatir yang berlebihan. Kuatir melihat fakta kondisi masyarakat yang semakin kompetitif di kemudian hari.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> Kuatir karena melihat kenyataan bahwa kemampuan anak-anaknya untuk bersaing dalam kondisi semacam itu pasti bakal kalah sebelum berperang.<br />
Maka merasa sebagai orang tua yang bertanggungjawab ia memutuskan untuk menghindarkan kehancuran semacam itu bagi anak-anaknya. Jalan pintas yang dipakainya ialah menghentikan saja hidup anak-anaknya. <em>She was playing God.</em><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> Orang semacam ini dapat saja beragama dan beribadah namun memiliki iman dan harapan yang sangat minimalis. Ia hanya terpukau oleh kekuatan manusia sendiri. Dalam hal ini kekuatan anak-anaknya untuk bersaing sendiri– di kemudian hari.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> Ia meniadakan sama sekali peranan Allah sebagai Khalik yang memberikan rezeki kepada semua manusia tanpa kecuali. Padahal Allah selalu memberi panas matahari dan curah hujan kepada semua mahluk tanpa kecuali.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> Manusia tidak percaya lagi terhadap kekuatan doa. Terhadap kekuatan pengharapan [<em>ekspektansi</em>]. Dan terhadap kodrat Allah Yang Mahapemurah dan Mahapenyelenggara. Mahapengasih dan Mahapenyayang. Manusia seperti itu adalah manusia yang tidak mengadopsi nilai pasrah dan tawakkal ke dalam koleksi sistem nilainya.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> Jadi dapat disimpulkan bahwa manusia sebenarnya cukup dilengkapi nilai-nilai moral [religi] yang dibutuhkan. Baik untuk menghadapi kenyataan di masa lampau, di masa sekarang, maupun di masa yang akan datang. Untuk menghadapi masa lampau ia dapat mengadopsi nilai ikhlas. Untuk masa yang sedang berjalan ia dapat mengadopsi nilai syukur. Dan untuk menghadapi tantangan masa depan ia dapat mengadopsi nilai pasrah dan tawakkal.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> Mudahkah mengadopsi ketiga nilai moral [religi] tersebut? Mengadopsi suatu nilai harus bersifat sukarela. Sungguh-sungguh diniatkan. Dan pastilah memerlukan bantuan kekuatan illahi. Yaitu kekuatan di luar kemampuan kodrati manusia.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> Manusia memerlukan bantuan illahi untuk mampu mempertahankan nilai-nilai tersebut. Bantuan ilahi itu oleh orang beriman disebut sebagai <em>rahmat’ullah</em> atau <em>kharismata. </em>Kekuatan yang dapat diperoleh lewat doa-doa yang tekun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">Doa yang berasal dari lubuk hati manusia yang terdalam. Bukan sekedar doa verbal yang bacar keluar dari mulut. Atau sekedar doa dari hasil olah pikiran atau perasaan manusia semata. [JS]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/juswan.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/juswan.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/juswan.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/juswan.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/juswan.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/juswan.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/juswan.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/juswan.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/juswan.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/juswan.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/juswan.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/juswan.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/juswan.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/juswan.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juswan.wordpress.com&amp;blog=3384217&amp;post=86&amp;subd=juswan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://juswan.wordpress.com/2008/12/18/nilai-dalam-konstelasi-waktu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/549bfe6e20ea8b0b81d7068d625199bd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">juswan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
